Memuat...

Dari Gaza hingga Suriah, Luka Psikologis Perang Terus Menghantui Penyintas

Zarah Amala
Selasa, 27 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 10:37
Dari Gaza hingga Suriah, Luka Psikologis Perang Terus Menghantui Penyintas
'Israel' terus melakukan tindakan genosida untuk menghancurkan, sebagian atau seluruhnya, warga Palestina di Gaza. [Getty]

GAZA (Arrahmah.id) - Dampak perang terhadap kesehatan mental terus menghantui para penyintas di sejumlah wilayah Timur Tengah, termasuk Gaza, Jenin, dan Suriah. Meski selamat dari serangan dan kehilangan tempat tinggal maupun orang-orang terkasih, mereka masih harus menghadapi trauma, ketakutan berulang, dan gangguan psikologis.

Al Jazeera pada Senin (26/10/2026) mengulas dampak psikologis berkepanjangan akibat perang, termasuk gejala gangguan stres pascatrauma (post-traumatic stress disorder/PTSD), metode penanganan, serta risiko dampaknya terhadap generasi mendatang.

Salah satu kisah yang diangkat adalah Lana, seorang anak perempuan Palestina yang sebagian rambutnya berubah menjadi putih setelah mengalami trauma akibat pemboman rumah di dekat tempatnya tidur.

Lana mengaku kerap terbangun karena suara pesawat dan ledakan. Pemandangan rumah-rumah yang hancur juga terus mengingatkannya pada peristiwa mengerikan yang dialaminya.

Penderitaannya bertambah setelah ia menjadi sasaran perundungan teman-temannya. Mereka mengejeknya dengan sebutan perempuan tua dan menolak bermain bersamanya. Akibatnya, Lana menarik diri dari lingkungan sosial dan berhenti bersekolah di kamp pengungsian tempatnya tinggal.

Kini, harapannya hanya bisa menjalani pengobatan dan kembali bermain bersama teman-temannya seperti dahulu.

Laporan tersebut juga mengangkat kisah Dalal, seorang ibu Palestina yang kehilangan rumah dan putranya setelah pasukan pendudukan 'Israel' menyerbu rumahnya di Kamp Jenin dan menghancurkannya.

Dalal mengaku masih hidup dalam bayang-bayang kenangan tentang kamp dan kehidupan yang pernah dijalaninya. Kehilangan sang putra membuatnya kehilangan makna hidup. Baginya, kehilangan rumah bukan sekadar kehilangan tempat berlindung, tetapi juga seluruh kenangan, hubungan, dan kehidupan yang melekat pada rumah tersebut.

Gejala PTSD Menghantui Penyintas

Dampak serupa juga dialami para penyintas perang di Suriah. Kenangan tentang pemboman, kehilangan teman, serta anggota keluarga yang terluka masih terus membayangi kehidupan mereka.

Sebuah penelitian pada 2025 menemukan gejala gangguan stres pascatrauma pada 53,5 persen partisipan di Gaza. Sementara itu, penelitian yang melibatkan tujuh kamp pengungsi di Tepi Barat mencatat angka sebesar 63,6 persen.

Menurut sejumlah ahli yang diwawancarai Al Jazeera, gangguan stres pascatrauma dapat muncul setelah seseorang mengalami atau menyaksikan peristiwa traumatis. Gejalanya meliputi ingatan traumatis yang muncul kembali seolah-olah peristiwa tersebut sedang terjadi, mimpi buruk, kecemasan, kemarahan, ketakutan berlebihan, perasaan tidak berdaya, kehilangan harapan, hingga kesulitan menjalani kehidupan normal.

Dosen psikologi sekaligus konsultan kesehatan mental Universitas Tripoli, Dr. Adel Al-Bahi, memperingatkan bahwa gejala trauma tidak selalu muncul segera setelah peristiwa terjadi. Dalam sejumlah kasus, gejala baru terlihat beberapa bulan kemudian sehingga penanganan sejak dini menjadi sangat penting.

Ia menegaskan bahwa korban perang bukan hanya mereka yang mengalami luka fisik. Anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas juga termasuk kelompok yang rentan mengalami penderitaan psikologis, meskipun dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung.

Sementara itu, spesialis kesehatan mental Hamad Medical Corporation, Dr. Yahya Al-Bubli, menjelaskan bahwa anak-anak dapat menunjukkan gejala trauma melalui perubahan perilaku.

Pada anak usia dini, gejala tersebut dapat berupa ketergantungan berlebihan kepada orang tua, ketakutan saat berpisah, dan mengompol. Mereka juga dapat mengulang kejadian traumatis melalui permainan atau gambar.

Anak-anak yang lebih besar mungkin mengalami kesulitan belajar dan ketakutan kehilangan anggota keluarga. Adapun remaja dapat menunjukkan kemarahan, menarik diri dari lingkungan sosial, dan kehilangan harapan.

Al-Bubli juga mengungkapkan hasil survei terhadap sekitar 350 anak dan remaja asal Gaza di Qatar. Survei tersebut menunjukkan bahwa lebih dari 70 persen responden mengalami gejala kecemasan, lebih dari 50 persen menunjukkan gejala depresi, dan hampir 50 persen mengalami gejala gangguan stres pascatrauma.

Namun, persentase mereka yang telah didiagnosis mengalami gangguan tersebut berkisar antara 15 hingga 20 persen.

Trauma Berpotensi Berdampak pada Generasi Berikutnya

Al-Bubli menjelaskan bahwa bertahan hidup di wilayah perang dapat mempersulit pemulihan psikologis karena para penyintas terus menghadapi trauma baru, kehilangan anggota keluarga, kehilangan rumah, dan ketidakamanan.

Evakuasi ke tempat yang lebih aman pun tidak selalu mengakhiri penderitaan. Mereka yang meninggalkan wilayah konflik masih dapat mengalami kecemasan karena mengkhawatirkan kerabat yang tertinggal di daerah berbahaya.

Kemungkinan dampak trauma ini bisa berlanjut lintas generasi. Hal ini dapat terjadi melalui pola perilaku dan cara anggota keluarga merespons ketakutan serta tekanan psikologis. Sejumlah penelitian juga tengah mengkaji kemungkinan dampak biologis trauma melalui perubahan yang berkaitan dengan ekspresi gen.

Para ahli menekankan bahwa pemulihan membutuhkan lingkungan yang aman, kesediaan untuk mendengarkan para penyintas, serta ruang bagi mereka untuk mengungkapkan kesedihan dan kehilangan tanpa dipaksa menceritakan kembali pengalaman traumatis secara terperinci.

Metode penanganan yang dapat digunakan antara lain terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT) dan teknik desensitisasi serta pemrosesan ulang melalui gerakan mata (eye movement desensitization and reprocessing/EMDR).

Al-Bubli menekankan pentingnya memberikan rasa aman kepada penyintas, membantu mereka tetap terhubung dengan keluarga, memenuhi kebutuhan dasar, serta mempertahankan rutinitas sehari-hari.

Sementara itu, Al-Bahi menyerukan peningkatan kesadaran mengenai kesehatan mental dan upaya melawan stigma sosial yang masih melekat pada orang-orang yang menjalani perawatan psikologis. (zarahamala/arrahmah.id)