Memuat...

Rencana Operasi terhadap Iran Picu Ketegangan di Internal Militer 'Israel'

Zarah Amala
Selasa, 27 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 12:25
Rencana Operasi terhadap Iran Picu Ketegangan di Internal Militer 'Israel'
Direktur Mossad Roman Gofman (kiri), Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu (tengah), dan Kepala Staf Militer 'Israel' Eyal Zamir (kanan). (Desain: PC)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dilaporkan mendorong pelaksanaan operasi militer terhadap Iran menjelang pemilu 'Israel' pada Selasa (27/10/2026). Langkah tersebut berpotensi memicu kembali perang dengan Teheran. Rencana itu mendapat dukungan Kepala Mossad Roman Gofman, tetapi ditentang Kepala Staf Militer 'Israel' Eyal Zamir, menurut laporan surat kabar Israel Hayom pada Senin (26/10), yang dikutip Anadolu.

Menurut laporan tersebut, Zamir bahkan tidak diberi tahu sebelumnya mengenai rencana operasi itu. Seorang sumber yang mengetahui pembahasan tersebut mengatakan bahwa operasi yang diusulkan “bisa memicu kembali perang dengan Iran”, meskipun langkah itu tidak dirancang sebagai dimulainya kembali serangan militer berskala besar.

Laporan itu muncul setelah Channel 12 pada Ahad (25/10) malam mengungkap adanya perselisihan yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya antara Netanyahu dan Zamir. Perselisihan tersebut berkaitan dengan arahan politik mengenai operasi militer yang berpotensi dengan cepat berkembang menjadi konfrontasi langsung dengan Teheran.

Menurut Channel 12, ketegangan meningkat dalam 24 jam sebelumnya. Kalangan militer 'Israel' dilaporkan khawatir isu Iran akan dimanfaatkan untuk kepentingan politik menjelang pemilihan anggota Knesset, parlemen 'Israel'.

Sejumlah tokoh oposisi 'Israel' selama sepekan terakhir juga menuduh Netanyahu berupaya melancarkan serangan terhadap Iran untuk memengaruhi hasil pemilu.

Meski demikian, seorang pejabat militer 'Israel' yang dikutip Israel Hayom membedakan operasi yang diusulkan tersebut dari serangan berskala besar. Menurutnya, serangan besar terhadap Iran membutuhkan koordinasi penuh dengan Washington serta keputusan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Perselisihan tersebut berlangsung ketika Netanyahu menjadikan isu keamanan dan konfrontasi dengan Iran sebagai fokus utama kampanyenya. Sementara itu, sejumlah hasil jajak pendapat menunjukkan bahwa blok pemerintahan yang dipimpinnya akan menghadapi kesulitan untuk meraih mayoritas kursi parlemen yang diperlukan guna membentuk pemerintahan.

Pada Ahad (25/10), Netanyahu mengunggah gambar hasil kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan ledakan nuklir di Tel Aviv. Unggahan itu disertai peringatan mengenai kemungkinan Iran memperoleh senjata nuklir.

Netanyahu juga menyerukan agar konfrontasi dengan Teheran dituntaskan dalam dua tahun tersisa masa jabatan Trump.

Pesan kampanye tersebut muncul bersamaan dengan laporan mengenai perbedaan pandangan di kalangan pejabat 'Israel' tentang waktu dan cakupan operasi militer berikutnya.

Sementara itu, Iran berulang kali membantah tuduhan bahwa negara itu berupaya mengembangkan senjata nuklir. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, kembali menegaskan pada Senin (25/10) bahwa Teheran tidak pernah memiliki ataupun berusaha memperoleh senjata tersebut.

Menurut kantor berita IRNA, Baqaei menuduh Washington menggunakan tuduhan terkait program nuklir Iran sebagai pembenaran untuk melancarkan serangan militer. (zarahamala/arrahmah.id)