Memuat...

Penasihat Utama Erdoğan Mundur di Tengah Polemik Larangan Jilbab Azerbaijan

Hanoum
Selasa, 27 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 05:29
Penasihat Utama Erdoğan Mundur di Tengah Polemik Larangan Jilbab Azerbaijan
Oktay Saral. [Foto: Yeni Safak]

ANKARA (Arrahmah.id) -- Oktay Saral, penasihat utama Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan, mengumumkan pengunduran dirinya pada Senin (26/10/2026). Pengumuman itu muncul setelah ia mengatakan akhir pekan lalu bahwa presiden memerintahkannya pergi, di tengah perselisihan soal pembatasan jilbab di sekolah-sekolah Azerbaijan.

Dalam pernyataan di X, Saral mengatakan meninggalkan jabatan yang ia pegang sejak 2016, sambil berjanji tetap mendukung Erdoğan. Kepada harian Nefes (26/10), ia mengaku yakin pencopotannya terkait ucapannya soal Azerbaijan, meski tidak tahu pasti. \

Sekretaris jenderal menyampaikan kabar itu kepadanya pada Sabtu, dan ia menghormati keputusan presiden. Kepada wartawan Talat Atilla, ia mengatakan presiden yang mengangkatnya dan ia mundur atas instruksi presiden.

Perselisihan bermula dari aturan seragam sekolah baru di Azerbaijan. Aturan yang diubah pada 21 September itu melarang pakaian yang dianggap tidak sesuai seragam atau pendidikan sekuler. Aturan tersebut tidak menyebut jilbab secara eksplisit, tetapi sejumlah sekolah menerapkannya sebagai larangan, menolak siswi masuk kelas, dan memicu protes orang tua.

Pada 12 Oktober, Saral mengecam praktik itu karena melanggar hak siswa atas pendidikan. Partai berkuasa Azerbaijan, Partai Azerbaijan Baru pimpinan Presiden Ilham Aliyev, membalas dengan teguran keras. Partai itu menuduh tokoh politik Turki mencampuri urusan dalam negeri dan membela sistem pendidikan sekulernya.

Middle East Eye melaporkan Baku menuntut pemecatan Saral. Seorang sumber Azerbaijan kepada media itu mengatakan pencopotan Saral akan mendorong Aliyev menghadiri KTT negara-negara Turkik.

Keterangan Saral sendiri tidak mengonfirmasi bahwa Azerbaijan mengajukan permintaan semacam itu. Anggota parlemen Azerbaijan Hikmet Babaoğlu menyebut kepergian Saral sebagai peringatan bagi pengkritik lain di Turki.

Ketegangan sudah meluas sebelum pengunduran diri ini. Pada Rabu pekan lalu, Azerbaijan melarang 31 warga Turki masuk ke wilayahnya, termasuk anggota parlemen oposisi dan pemimpin partai. Kementerian Luar Negeri Azerbaijan menuduh mereka menyerang kedaulatan dan keamanan negara, tanpa menyebut unggahan tertentu.

Di sisi lain, jalur diplomasi tetap dibuka. Erdoğan berbicara lewat telepon dengan Aliyev dan mengundangnya ke KTT Organisasi Negara-Negara Turkik di Ankara pada 29–30 Oktober, menurut versi Turki atas percakapan itu. Kedua negara menyebut hubungannya “satu bangsa, dua negara”. Isu jilbab sendiri sensitif bagi Erdoğan, yang pemerintahannya mencabut larangan jilbab di universitas dan pegawai negeri. (hanoum/arrahmah.id)