Memuat...

Penembakan Rasial di Pinggiran Paris: 1 Tewas, 5 Terluka

Hanoum
Selasa, 27 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 05:28
Penembakan Rasial di Pinggiran Paris: 1 Tewas, 5 Terluka
Tangkapan layar. [Foto: Youtube]

TRAPPES (Arrahmah.id) -- Seorang pria bersenjata menembaki orang dari dalam mobilnya di Trappes dan La Verrière, pinggiran barat daya Paris, Jumat (23/10/2026). Satu orang tewas dan lima lainnya terluka, dan Presiden Emmanuel Macron menyebutnya “serangan teroris rasis” yang diduga menyasar orang-orang berlatar imigran.

Serangan dimulai Jumat pagi dan menyasar beberapa titik, termasuk sekitar pompa bensin, pusat kesehatan, dan area bermain anak. Rangkaian tembakan berlangsung sekitar 15 menit, dan polisi menangkap tersangka di Coignières, kota tetangga, kurang dari 20 menit setelah serangan dimulai.

Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menyebut korban luka mencakup seorang anak perempuan berusia 12 tahun. Wali Kota La Verrière, Nicolas Dainville, mengatakan kepada AFP (24/10/2026) bahwa anak itu terkena delapan tembakan, terluka serius, tetapi kondisinya stabil.

Wali Kota Trappes, Ali Rabeh, mengatakan korban tewas berasal dari Afrika dan salah satu korban yang kritis berasal dari Afrika Utara. Ia menyebut pelaku menembak secara acak dan ingin menimbulkan “pertumpahan darah”.

Macron, yang mengunjungi Trappes pada Jumat malam, mengatakan korban dibidik karena warna kulit atau agama yang diduga mereka anut, dan menyebut peristiwa itu sebagai titik balik bagi Prancis.

Pelaku berusia 39 tahun dan diidentifikasi jaksa sebagai Kevin T. Ia ditangkap dengan membawa senapan mesin ringan dan granat gas air mata. Seorang sumber kepolisian mengatakan ia punya catatan kriminal tetapi tidak dikenal intelijen setempat.

CBS News melaporkan, mengutip penyelidik, bahwa apartemen tersangka dipasangi jebakan. Kejaksaan Nasional Antiterorisme (PNAT) menangani kasus ini. Pada Sabtu, masa penahanannya diperpanjang dan tiga orang lain ditangkap.

Pada Ahad, jaksa antiteror menangguhkan penahanan tersangka dan menempatkannya dalam observasi psikiatri selama 48 jam. Seorang sumber dekat penyelidikan mengatakan kepada AFP bahwa ia sedang menjalani pengobatan skizofrenia.

Menurut siaran franceinfo, tersangka membantah bahwa perbuatannya bermotif rasial. Tersangka mengaku ingin membalas para pemilik toko dan menyasar orang berdasarkan warna kulit.

Serangan ini terjadi saat Prancis sedang tegang. Negara itu baru saja dilanda kerusuhan dalam protes besar soal biaya hidup, yang disebut sebagai salah satu kekerasan jalanan terburuk dalam beberapa tahun. (hanoum/arrahmah.id)