Memuat...

Panglima Militer 'Israel' Ingin Akhiri Operasi di Hebron, Netanyahu dan Katz Menolak

Zarah Amala
Selasa, 27 Oktober 2026 / 17 Jumadilawal 1448 11:21
Panglima Militer 'Israel' Ingin Akhiri Operasi di Hebron, Netanyahu dan Katz Menolak
Kepala Staf Militer Eyal Zamir, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu, dan Menteri Pertahanan 'Israel' Israel Katz. (Media sosial)

GAZA (Arrahmah.id) - Kepala Staf Militer 'Israel' Eyal Zamir dilaporkan bermaksud mengakhiri operasi militer di Kota Hebron, Tepi Barat, pada 24 Oktober. Namun, Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan 'Israel' Katz mendorong agar operasi dilanjutkan, termasuk dengan tetap mengusir warga Palestina dan mencegah mereka kembali ke rumah masing-masing, menurut laporan surat kabar Haaretz.

Zamir menyampaikan kepada pimpinan politik 'Israel' bahwa operasi tersebut telah mencapai tujuan yang ditetapkan. Meski demikian, Netanyahu dan Katz menolak mengizinkan lebih dari 2.000 warga Palestina yang mengungsi untuk kembali ke rumah mereka.

Sementara itu, Ynet melaporkan bahwa Zamir berpendapat, “Sudah waktunya mengakhiri operasi tersebut.” Pihak militer sendiri dilaporkan mempertanyakan perlunya melanjutkan operasi dalam bentuk saat ini karena hasil yang diperoleh dinilai terbatas.

Rekomendasi Zamir tidak diterima oleh pimpinan politik 'Israel'. Laporan Haaretz dan Ynet tersebut tidak memuat tanggapan dari Netanyahu, Katz, maupun pihak militer 'Israel'.

Operasi militer 'Israel' di Hebron dimulai setelah penembakan di sebuah pos pemeriksaan 'Israel' di salah satu pintu masuk kota itu menewaskan dua tentara 'Israel'. Pos pemeriksaan tersebut merupakan bagian dari sistem pembatasan akses yang diberlakukan 'Israel' di wilayah tersebut.

Pasukan dari Divisi ke-98 militer 'Israel' kemudian melakukan penggeledahan senjata, penangkapan, pengusiran warga Palestina dari rumah mereka, serta penghancuran bangunan yang disebut militer sebagai bangunan tanpa izin.

Dalam operasi tersebut, pasukan 'Israel' dilaporkan menangkap sejumlah orang dan menemukan sejumlah kecil senjata. Namun, mereka tidak menemukan persenjataan yang dianggap tidak biasa ataupun gudang senjata dalam jumlah besar.

Channel 14 melaporkan bahwa Katz memerintahkan agar warga yang mengungsi tidak diizinkan kembali sebelum apa yang disebutnya sebagai penghancuran total infrastruktur Hamas di seluruh kota. Stasiun televisi tersebut menggambarkan kebijakan itu sebagai penerapan “model Jenin” di Hebron.

Model tersebut merujuk pada operasi militer 'Israel' di wilayah Jenin yang disertai penghancuran infrastruktur dan pengusiran warga Palestina.

Ynet juga menyoroti operasi sebelumnya yang dilakukan militer 'Israel' di Kamp Pengungsi Qalandiya pada Agustus. Operasi itu berakhir setelah dua hari tanpa hasil signifikan. Saat itu, Katz justru mendorong operasi yang lebih besar dan mengangkat kemungkinan pengambilalihan kamp pengungsi lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)