Memuat...

Armada Sumud Global akan Berlayar Hari ini dari Turki Menuju Gaza

Zarah Amala
Kamis, 14 Mei 2026 / 27 Zulkaidah 1447 11:00
Armada Sumud Global akan Berlayar Hari ini dari Turki Menuju Gaza
54 kapal dan 500 akktivis dunia bertola dari Turki menuju Gaza (Foto: tangkapan video)

MARMARIS (Arrahmah.id) - Armada Sumud Global (Global Resilience Flotilla) dijadwalkan bertolak hari ini, Kamis (14/5/2026), dari kota pelabuhan Marmaris, Turki. Misi kemanusiaan ini membawa 54 kapal dan lebih dari 500 aktivis internasional dari berbagai negara sebagai upaya terbaru untuk menembus blokade laut 'Israel' di Jalur Gaza.

Dalam konferensi pers yang digelar di Provinsi Mugla, para anggota dewan direksi armada, termasuk aktivis Palestina-Spanyol Saif Abu Kishk, menegaskan bahwa misi ini tetap berjalan meskipun dibayang-bayangi ancaman keamanan dari otoritas 'Israel'.

Armada kali ini disebut sebagai formasi terbesar dalam sejarah upaya penembusan blokade Gaza, melibatkan 54 kapal, di mana lima di antaranya berada di bawah aliansi Freedom Flotilla.

Diikuti oleh lebih dari 500 aktivis dari berbagai latar belakang kewarganegaraan yang berkomitmen pada hukum internasional yang bertujuan memprotes kebijakan kelaparan paksa (starvation) yang dianggap sebagai genosida lambat terhadap warga Gaza dan upaya pengungsian paksa di Tepi Barat.

Kesaksian Penyiksaan di Penjara Ashkelon

Anggota komite pengarah armada asal Brasil, Thiago Avila, membagikan pengalaman pahitnya saat dicegat militer 'Israel' pada misi sebelumnya (29 April 2024). Ia mengaku diculik di perairan internasional dekat Pulau Kreta, Yunani, dan dibawa ke penjara Ashkelon.

"Saya mengalami penyiksaan, pemukulan, dan interogasi tanpa henti. Penyelidik 'Israel' mengancam saya dengan hukuman 100 tahun penjara atas tuduhan terorisme hanya karena mengorganisir bantuan kemanusiaan," ujar Avila kepada Al Jazeera Mubasher. Ia juga mengkritik penjaga pantai Yunani yang dianggap "berkomplot" karena tidak melindungi mereka saat serangan terjadi di perairan internasional.

Pantang Mundur Meski Diancam

Meskipun menghadapi trauma penahanan dan penyiksaan, para aktivis menegaskan tidak akan menyerah. Menurut mereka, penderitaan yang mereka alami tidak sebanding dengan penderitaan harian warga Gaza yang hidup di bawah bom dan pengepungan sejak 2007.

Upaya ini dilakukan di tengah situasi kemanusiaan yang memburuk secara drastis sejak pecahnya perang besar pada Oktober 2023, yang telah menghancurkan infrastruktur perumahan dan memaksa 1,5 juta warga Palestina mengungsi di dalam wilayah kantong tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)