GAZA (Arrahmah.id) - Militer 'Israel' dilaporkan telah memperluas wilayah kendalinya hingga mencakup 64% dari total luas Jalur Gaza. Langkah ini ditandai dengan penetapan "Garis Oranye" (Orange Line) sebagai perbatasan de-facto baru, menggantikan "Garis Kuning" (Yellow Line) yang sebelumnya menjadi batas wilayah pendudukan.
Laporan Israel Hayom yang mengutip diplomat Barat menyebutkan bahwa perluasan ini telah mendapat persetujuan dari Board of Peace, badan bentukan Presiden AS Donald Trump yang bertugas mengawasi gencatan senjata di Gaza.
Pencaplokan wilayah baru ini menambah sekitar 34 kilometer persegi atau 11% wilayah tambahan ke dalam zona kendali 'Israel'.
Board of Peace menyetujui langkah tersebut dengan dalih adanya pelanggaran gencatan senjata oleh Hamas dan penolakan kelompok tersebut untuk melucuti senjata.
Media yang berafiliasi dengan donor besar Trump tersebut menyatakan bahwa strategi 'Israel' kini bergeser dari deklarasi kemenangan total menjadi membangun fakta di lapangan untuk memperdalam kontrol secara bertahap.
'Israel' dilaporkan meningkatkan pembongkaran bangunan di area baru tersebut guna menciptakan realitas baru yang akan menyulitkan proses rekonstruksi Gaza di masa depan.
Hamas: 'Kami Tidak Akan Melucuti Senjata'
Hamas, yang secara aktif telah menghentikan operasi serangan terhadap 'Israel' sejak gencatan senjata, dengan tegas menolak desakan untuk melucuti senjata sebelum adanya pembentukan negara Palestina yang berdaulat.
Pejabat senior Hamas, Bassem Naim, sebelumnya telah menuduh 'Israel' menggunakan momentum gencatan senjata justru untuk memperluas pendudukan militernya. Pernyataannya selaras dengan laporan terbaru yang menunjukkan kontrol 'Israel' kini telah melampaui angka 60%.
Meskipun serangan harian 'Israel' sejak gencatan senjata telah menewaskan lebih dari 850 orang, perwakilan tinggi Board of Peace, Nickolay Mladenov, dalam kunjungannya ke Yerusalem menyatakan bahwa gencatan senjata masih bertahan meski tidak sempurna.
Mladenov menegaskan bahwa Hamas masih bisa memiliki peran politik dalam rencana perdamaian Trump pasca-perang, dengan syarat mutlak mereka harus meletakkan senjata sepenuhnya. Hingga saat ini, belum ada tekanan signifikan dari AS maupun Board of Peace terhadap aksi militer 'Israel' yang terus memakan korban jiwa warga Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)
