WASHINGTON (Arrahmah.id) - Pemerintahan Amerika Serikat mengumumkan strategi kontra-terorisme baru yang secara resmi mengeklaim Ikhwanul Muslimin (Muslim Brotherhood) sebagai asal-usul dari Al-Qaeda dan ISIS. Dokumen strategi ini diumumkan pada Selasa (5/5/2026) oleh Sebastian Gorka, Direktur Kontra-terorisme Trump.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah AS menyatakan bahwa Ikhwanul Muslimin adalah akar dari semua terorisme Islam modern yang didasarkan pada upaya pembentukan kembali Kekhalifahan Islam serta pembunuhan atau perbudakan terhadap non-muslim.
Strategi ini menandai pergeseran kebijakan yang signifikan, di mana pada Januari 2026, Departemen Luar Negeri AS telah menetapkan cabang Ikhwanul Muslimin di Lebanon, Mesir, dan Yordania sebagai organisasi teroris.
Klaim Keterkaitan Global
Dokumen tersebut menegaskan pandangan Trump bahwa semua kelompok jihadis modern, mulai dari Al-Qaeda, ISIS, hingga Hamas, memiliki akar yang sama pada satu organisasi, yaitu Ikhwanul Muslimin.
Pandangan ini sejalan dengan teori yang diusung Sebastian Gorka dalam bukunya Defeating Jihad: The Winnable War (2016). Gorka berargumen bahwa musuh AS bukanlah terorisme secara umum, melainkan jihadisme global yang ia deskripsikan sebagai ideologi totaliter modern yang berakar pada doktrin Islam. Meski buku tersebut menjadi bestseller, banyak pihak mengkritiknya karena dianggap menyederhanakan Islam dan mengandung unsur Islamofobia.
Strategi baru ini mengidentifikasi tiga kategori utama ancaman teror. Pertama, narkoteroris dan geng transnasional, prioritas utama adalah melumpuhkan organisasi kriminal penyelundup narkoba dan manusia. Kedua, teroris islamis konvensional (Legacy Islamist terrorists), target untuk menghancurkan lima kelompok besar, termasuk Al-Qaeda dan ISIS-Khorasan. Ketiga, ekstremis sayap kiri yang kejam, termasuk kelompok anarkis dan anti-fasis.
Pemerintah AS juga berjanji untuk terus menekan gerakan jihadis global melalui penetapan status teroris terhadap entitas-entitas yang terkait dengan Ikhwanul Muslimin di seluruh dunia.
Dokumen ini secara terbuka mengkritik pemerintahan AS terdahulu. Strategi tersebut menyalahkan kebijakan perang abadi (forever war) yang dinilai gagal dan mengkritik kebijakan Partai Demokrat yang dianggap melakukan peredaman (appeasement) terhadap negara pendukung terorisme, terutama terkait kesepakatan nuklir Iran tahun 2015 era Obama.
Sebagai penutup, dokumen tersebut menegaskan kembali tekad pemerintah AS untuk menghancurkan organisasi ini (Ikhwanul Muslimin) di mana pun berada. (zarahamala/arrahmah.id)
