Memuat...

Nyaris Perang Terbuka! AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Siapa Mulai Duluan?

Samir Musa
Jumat, 8 Mei 2026 / 21 Zulkaidah 1447 10:18
Nyaris Perang Terbuka! AS dan Iran Saling Serang di Selat Hormuz, Siapa Mulai Duluan?
Seorang tentara di atas kapal induk Amerika di Selat Hormuz (CENTCOM).

TEHERAN (Arrahmah.id) — Amerika Serikat dan Iran saling melontarkan tuduhan terkait siapa yang memulai serangan di Selat Hormuz pada Kamis (8/5), dalam eskalasi paling serius sejak gencatan senjata diberlakukan sebulan lalu, dikutip dari Al Jazeera.

Di satu sisi, pihak Iran menegaskan situasi telah kembali normal. Sementara itu, Washington menekankan bahwa mereka tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut.

Pada malam hari, suara ledakan terdengar di wilayah selatan Iran. Tak lama kemudian, markas militer Iran menuduh pasukan Amerika melanggar gencatan senjata dengan melancarkan serangan udara ke wilayah pesisir, setelah sebelumnya menargetkan kapal tanker minyak dan kapal Iran di Selat Hormuz.

Namun, versi Amerika berbeda. Washington menyatakan bahwa justru Iran yang lebih dulu menyerang pasukannya di kawasan tersebut, sehingga memaksa mereka melakukan serangan balasan yang disebut sebagai “aksi defensif”.

Siapa Menyerang Lebih Dulu?

Menurut versi Iran yang dirilis lebih awal, kantor berita Tasnim—mengutip sumber militer—menyebut insiden bermula dari serangan Amerika terhadap sebuah kapal tanker minyak Iran. Serangan itu kemudian dibalas oleh pasukan Iran dengan menargetkan kapal-kapal militer AS.

Iran mengklaim tiga kapal perusak Amerika diserang menggunakan rudal dan drone oleh angkatan lautnya di sekitar Selat Hormuz.

Ledakan juga dilaporkan terdengar di Pulau Qeshm dan wilayah sekitar Bandar Abbas, disusul ledakan lain di berbagai kota di provinsi Hormozgan. Bahkan sistem pertahanan udara dilaporkan aktif di dekat ibu kota Teheran.

Markas Khatam al-Anbiya menyatakan bahwa serangan balasan Iran menargetkan kapal militer Amerika di timur Selat Hormuz hingga selatan pelabuhan Chabahar.

Iran juga menuduh serangan udara Amerika menyasar wilayah sipil di beberapa kota pesisir, termasuk pelabuhan Khamir, Sirik, dan Pulau Qeshm, dengan dukungan “negara-negara di kawasan”, tanpa merinci lebih lanjut.

Versi Amerika: Serangan Iran “Tak Beralasan”

Sebaliknya, Komando Pusat militer AS (CENTCOM) menyatakan bahwa pasukannya berhasil menggagalkan serangan Iran yang disebut “tidak beralasan”, sebelum kemudian meresponsnya sebagai bentuk pembelaan diri.

Menurut pernyataan mereka, serangan terjadi saat kapal perusak AS—USS Truxtun, USS Rafael Peralta, dan USS Mason—melintas di Selat Hormuz menuju Teluk Oman.

Pasukan Iran disebut meluncurkan rudal, drone, dan mengerahkan kapal cepat kecil ke arah armada tersebut.

Sebagai balasan, militer AS mengklaim telah menghancurkan berbagai target militer Iran, termasuk lokasi peluncuran rudal dan drone, pusat komando, serta fasilitas intelijen dan pengawasan.

Pernyataan Donald Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa Iran telah menembakkan rudal ke arah kapal perusak AS, namun semuanya berhasil dicegat dengan mudah.

Ia juga mengklaim bahwa drone Iran berhasil dihancurkan sebelum mencapai target, serta kapal-kapal kecil Iran turut dimusnahkan.

Trump menegaskan bahwa tidak ada kerusakan pada kapal perang Amerika, sementara pihak Iran disebut mengalami kerugian besar.

Klaim Kerugian yang Bertolak Belakang

Iran melalui markas militernya menyatakan telah menimbulkan kerusakan signifikan pada kapal-kapal Amerika.

Namun, pihak AS membantah keras klaim tersebut dan menyebut tidak ada satu pun aset militernya yang terdampak.

Sementara itu, televisi Iran melaporkan bahwa serangan Amerika ke wilayah selatan negara itu tidak menimbulkan korban jiwa, dan kondisi di 13 kota di provinsi Hormozgan telah kembali normal.

Gencatan Senjata Terancam?

Iran menuduh Amerika telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dan memperingatkan akan adanya respons lanjutan.

Di sisi lain, Trump bersikeras bahwa gencatan senjata masih berlaku, meskipun ia menyebut serangan balasan AS hanya sebagai “tamparan ringan”.

Namun, ia juga melontarkan ancaman keras bahwa Amerika akan melancarkan serangan yang lebih besar jika Iran tidak segera menyepakati perjanjian.

Bukan Insiden Pertama

Insiden ini bukan yang pertama sejak gencatan senjata diumumkan pada April lalu.

Beberapa hari sebelumnya, militer AS mengklaim telah menghancurkan enam kapal cepat Iran serta mencegat rudal jelajah dan drone, dalam upaya membuka jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Peluang Kesepakatan Masih Ada?

Ketegangan ini terjadi hanya sehari setelah Trump menyatakan optimisme bahwa kesepakatan dengan Iran bisa segera tercapai.

Namun pasca-insiden, ia kembali menekan Teheran agar segera menandatangani perjanjian, sembari menegaskan bahwa Washington tidak akan pernah mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan bahwa pihaknya masih meninjau proposal terbaru yang disampaikan melalui mediasi Pakistan, dan belum memberikan jawaban resmi kepada Amerika.

Respons “Israel”

Tidak ada pernyataan resmi dari pemerintah “Israel” sejauh ini. Namun sumber-sumber media setempat menyebut bahwa “Israel” tidak terlibat dalam insiden tersebut dan menilai bentrokan itu terbatas serta telah berakhir.

(Samirmusa/arrahmah.id)