DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Gelombang protes merebak di sejumlah wilayah Suriah pada Jumat (23/10/2026) setelah seorang pria penyandang disabilitas tewas ditembak tentara' Israel' dalam operasi militer di Desa Jamla, Provinsi Daraa, Suriah selatan.
Dilansir The Jerusalem Post dan Arab News (24/10), demonstrasi berlangsung di sejumlah daerah, termasuk Damaskus, Daraa, Quneitra, Homs, dan Hasakah. Ratusan orang dilaporkan berkumpul di beberapa lokasi untuk mengecam operasi militer 'Israel' dan menyerukan penghormatan terhadap kedaulatan serta keutuhan wilayah Suriah.
Di Damaskus, para demonstran berkumpul di sekitar gedung Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di kawasan Mazzeh. Sebagian peserta membawa bendera Suriah dan potret warga yang dilaporkan ditahan dalam operasi militer Israel.
Aksi serupa juga berlangsung di sejumlah kota lain, memperlihatkan bahwa penolakan terhadap serangan dan penyusupan militer 'Israel' tidak hanya terjadi di daerah perbatasan.
Peristiwa yang memicu gelombang protes tersebut terjadi pada Kamis (22/10), ketika pasukan 'Israel' melakukan operasi militer di Desa Jamla, wilayah pedesaan barat Provinsi Daraa. Korban bernama Muath Salama al-Baeer, seorang pria muda yang menurut warga setempat memiliki sindrom Down.
Media pemerintah Suriah, SANA, melaporkan bahwa seorang warga sipil berkebutuhan khusus tewas dalam operasi tersebut. Warga setempat menyebut al-Baeer tinggal bersama saudara-saudara perempuannya setelah kedua orang tuanya meninggal dan tidak bersenjata.
Namun, militer 'Israel' memberikan penjelasan berbeda mengenai insiden tersebut. Dalam pernyataannya, militer 'Israel' menyebut pasukannya sedang menjalankan operasi malam hari di zona keamanan di Suriah selatan. Tentara mengidentifikasi seseorang yang dianggap mencurigakan mendekati mereka dan melepaskan tembakan setelah orang tersebut terus mendekat.
Kematian al-Baeer juga mendapat respons dari Kementerian Luar Negeri Suriah, yang mengecam tindakan tersebut dan meminta masyarakat internasional mengambil langkah untuk menghentikan operasi militer 'Israel' di wilayah Suriah. Pemerintah Suriah menilai serangan dan penangkapan warga dalam operasi lintas wilayah mengancam kedaulatan negara serta memperburuk situasi keamanan. (hanoum/arrahmah.id)
