Memuat...

Krisis Perang Modern: Drone Menggeser Sniper, Apakah Era Penembak Jitu Sudah Berakhir?

Ukasyah
Jumat, 15 Mei 2026 / 28 Zulkaidah 1447 16:45
Krisis Perang Modern: Drone Menggeser Sniper, Apakah Era Penembak Jitu Sudah Berakhir?
“Drone serat optik dengan gulungan (situs resmi Angkatan Darat Amerika)

(Arrahmah.id) - Laporan dari Wall Street Journal dan Washington Post mengungkap perubahan besar dalam wajah perang modern, di mana pesawat tanpa awak atau drone kini mulai menggeser peran senjata dan unit militer tradisional seperti penembak jitu (sniper). Dari Ukraina hingga kawasan Timur Tengah, teknologi murah namun sangat efektif ini dinilai telah mengubah cara perang dijalankan secara mendasar.

Menurut laporan yang ditulis Alistair MacDonald dan Evgeniya Siforukha di Wall Street Journal, perang di Ukraina menjadi gambaran paling jelas dari transformasi tersebut. Drone-drone kecil berbiaya rendah yang mampu membawa bahan peledak atau menjalankan misi pengintaian presisi kini dianggap lebih efektif dibanding sniper dalam banyak tugas pengawasan dan penargetan.

Tank Merkava Israel berlindung dengan jaring, tetapi jaring tersebut tidak mampu mencegah drone milik Hizbullah (Al Jazeera).

Sniper Ukraina yang Beralih Peran

Wall Street Journal mengangkat kisah seorang prajurit pasukan khusus Ukraina, Vyacheslav Kovalskiy, yang sebelumnya dikenal luas karena rekor dunia menembak target dari jarak sekitar dua setengah mil. Namun dalam perkembangan terbaru, ia tidak lagi menjalankan tugas sebagai penembak jitu.

Selama sekitar satu setengah tahun terakhir, Kovalskiy berhenti menembak dan kini beralih membantu operator drone di medan perang. Ia mengakui bahwa perubahan teknologi telah menggeser cara kerja unit tempur secara menyeluruh.

Ia mengatakan bahwa drone kini jauh lebih efisien, cepat, dan murah dibandingkan operasi sniper tradisional.

“Dulu saya sniper dan semua orang mengelilingi saya. Sekarang operator drone yang menjadi pusat perhatian, bahkan termasuk saya sendiri,” ujarnya sebagaimana dikutip laporan tersebut.

Pernyataan ini mencerminkan perubahan struktur peran dalam unit militer Ukraina, di mana operator drone kini menempati posisi yang semakin strategis.

Gambar drone Hizbullah dari laporan simulasi yang disiarkan di saluran Al Jazeera.

Drone: Lebih Cepat, Lebih Akurat, Lebih Murah

Laporan tersebut menyebutkan bahwa banyak serangan yang sebelumnya membutuhkan sniper atau pengintai lapangan kini bisa dilakukan hanya dalam hitungan menit melalui drone. Informasi dari drone langsung diteruskan ke unit artileri, atau bahkan digunakan untuk melakukan serangan secara instan.

Keunggulan utama drone terletak pada kemampuannya memberikan pandangan udara yang luas, seperti “mata elang” di langit. Dari ketinggian, drone mampu menembus hambatan medan, memantau pergerakan musuh, dan mengurangi risiko bagi personel militer.

Sebaliknya, sniper kini menghadapi risiko yang semakin besar. Teknologi deteksi termal modern membuat posisi mereka lebih mudah terungkap melalui jejak panas tubuh, bahkan ketika mereka bersembunyi dengan sangat hati-hati.

Seorang komandan Ukraina dengan nama sandi “Ivanhoe” menyebut bahwa pada awal perang tahun 2022, sniper masih sangat efektif dalam mendeteksi pergerakan musuh dan memberikan koordinat dengan cepat. Namun kini, operator drone dapat melakukan hal yang sama, bahkan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi—hampir secara real time.

Meski demikian, sniper belum sepenuhnya hilang dari medan perang. Mereka masih digunakan dalam misi-misi khusus, terutama untuk mendukung infanteri dan menghadapi ancaman infiltrasi, meski perannya kini jauh lebih terbatas dibanding awal perang.

Penembak jitu Ukraina yang mencatat rekor dunia tidak lagi ikut serta dalam aktivitas penembakan selama lebih dari satu tahun (situs pasukan keamanan Ukraina).

Perubahan Lebih Luas di Medan Tempur

Washington Post dalam laporan terpisah menyoroti bahwa perubahan ini tidak hanya terjadi pada level personel, tetapi juga pada struktur perang secara keseluruhan.

Drone kini bahkan menjadi ancaman serius bagi kendaraan lapis baja, termasuk tank yang selama puluhan tahun dianggap simbol dominasi medan perang. Dalam konflik Ukraina, tank-tank modern kini dapat menjadi target mudah bagi drone kecil yang murah dan diproduksi secara massal.

Perubahan ini menunjukkan bahwa dominasi kekuatan militer berat tidak lagi mutlak seperti sebelumnya.

Drone di Timur Tengah dan Ancaman Baru


Washington Post juga menyoroti penggunaan drone oleh kelompok Hizbullah di Lebanon selatan. Drone yang digunakan disebut dilengkapi kamera dan sistem komunikasi canggih, termasuk teknologi serat optik yang membuatnya sulit dilumpuhkan oleh sistem gangguan elektronik (jamming).

Dengan teknologi ini, drone dapat mengirimkan video secara langsung kepada operator tanpa terputus, sekaligus menghindari upaya pengacauan sinyal.

Drone-drone berbiaya rendah yang dapat dirakit dari komponen komersial ini disebut telah membantu kelompok bersenjata mempertahankan dan bahkan meningkatkan kemampuan militernya, meski berada di bawah tekanan militer yang intens.

Balapan Teknologi Militer


Di sisi lain, 'Israel' disebut tengah mengembangkan sistem drone ofensif dan pertahanan baru untuk menghadapi ancaman tersebut. Namun sejumlah sumber militer mengakui bahwa tidak ada sistem pertahanan yang benar-benar mampu memberikan perlindungan penuh terhadap serangan drone, terutama yang menggunakan teknologi serat optik.

Para analis dari Institute for National Security Studies di 'Israel' menilai bahwa meskipun drone bukan satu-satunya faktor penentu kemenangan dalam perang, keberadaannya telah menjadi ancaman yang kompleks, sulit diprediksi, dan sulit diatasi dengan metode konvensional.

Kesimpulan: Awal Era Perang Baru


Laporan gabungan Wall Street Journal dan Washington Post menyimpulkan bahwa drone kini menjadi generasi baru alat perang: murah, mudah diproduksi, tetapi memiliki dampak yang sangat besar di medan tempur modern.

Teknologi ini belum sepenuhnya menggantikan sniper maupun unit militer tradisional lainnya, tetapi secara jelas telah menggeser peran mereka dalam banyak aspek peperangan.

Dari Ukraina hingga Timur Tengah, dunia kini memasuki fase baru peperangan—di mana dominasi teknologi tanpa awak semakin menentukan arah dan hasil pertempuran.

(Samirmusa/arrahmah.id)