Pohon zaitun bukan sekedar pohon biasa bagi penduduk Palestina. Ia adalah simbol ketahanan, akarnya yang menghunjam ke dalam tanah ibarat hubungan yang mendalam antara rakyat Palestina dengan tanah mereka. Meski ditebang, dihancurkan, warga terus menanam kembali dan menganggapnya sebagai pernyataan harapan, ketekunan dan hubungan mereka yang tidak tergoyahkan. Namun di musim panen tahun ini, ketegangan meningkat antara petani Palestina dengan pemukim Israel. Mereka melakukan kekerasan bahkan terhadap wartawan AS yang meliput kegiatan panen zaitun. Tentara IDF tidak berusaha menghentikan serangan para pemukim tersebut. Karena itu anggota Kongres, Rosa Delauro menyatakan di dalam akun X-nya "jika para pemukim melakukan ini kepada seorang jurnalis Amerika di depan kamera, di siang bolong, bayangkan apa yang dihadapi keluarga Palestina ketika tidak ada yang melihat." (Aljazeera.com, 16/10/2026)
Buah zaitun adalah hasil pertanian penduduk Palestina. Setiap bulan Oktober biasanya proses panen dilakukan. Lebih dari 90 ribu keluarga Palestina sangat bergantung pada hasil panen tersebut sebagai sumber pendapatan utama mereka. Sektor ini menyumbang hingga 8% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan menyediakan lapangan kerja yang luas. Hanya saja eskalasi kekerasan dan pencurian yang dilakukan pemukim Israel terhadap warga Palestina meningkat. Mereka mencuri zaitun yang siap panen, memukul petani, menumbangkan serta membakar ribuan pohon dan merusak properti. Kejadian ini telah berlangsung lama, dari 21.508 pohon yang dirusak di antaranya 19.375 pohon zaitun. Kondisi di Gaza hampir 90% lahan dan kebun zaitun serta infrastruktur produksinya dihancurkan saat perang Tufan al-Aqsha.
Awal musim panen zaitun di bulan Oktober 2026 ini, sudah terjadi sekitar 200 serangan pemukim Israel yang didukung IDF terhadap petani Palestina. Di antaranya menyebabkan satu orang tewas dan lebih dari 120 lainnya terluka. Bahkan jurnalis AS, aktivis serta politikus luar negeri pun turut menjadi korban. Karena itu Marco Rubio (sekretaris luar negeri Amerika), dan Mike Huckabee (duta besar AS untuk Israel) mengecam peristiwa itu dan meminta Israel untuk menyelidikinya. Termasuk Uni Eropa turut mengecam serangan terhadap para diplomatnya dan para petani zaitun. Hanya saja semua itu hanya berupa kecaman, dan tidak ada upaya untuk menindaklanjutinya.
Entitas Zionis dan tentaranya mengganggu petani yang sedang panen, menumbangkan pohon-pohon zaitun serta menyerang properti milik warga Palestina, tujuannya adalah merusak kondisi ekonomi dan akar budaya rakyat Palestina. Harapannya adalah menimbulkan efek jera, tekanan dan ketakutan sehingga secara tidak langsung memaksa penduduk untuk pergi meninggalkan tanahnya. Selanjutnya kaum Yahudi Zionis ini membangun pemukiman mereka di kemudian hari. Selain itu, penyerangan terhadap jurnalis dan aktivis adalah supaya mereka kapok dan berhenti meliput dan membersamai petani. Dengan begitu kekejaman tentara Israel tidak akan terekspos ke publik atau dunia.
Kepedulian anggota Kongres AS dan Uni Eropa hanya sebatas kecaman, itu pun dilakukan karena ada korbannya di pihak mereka, yaitu jurnalis dan para diplomatnya. Hanya saja kecaman tidak berarti apa-apa atau tidak mengubah keadaan. Jika tidak diikuti dengan tindakan. Sudah sejak lama kejahatan tentara Israel dan pemukim ilegal Yahudi mengundang kebencian warga dunia. Mereka bahkan mengutuk, mengecam, memprotes dengan aksi-aksi lokal maupun global. Tetap saja tidak membuat penjajah itu berhenti dan Palestina merdeka. Lebih dari itu, protes, kecaman dan kutukan itu dilakukan juga oleh penguasa negara-negara Arab, tapi pada saat yang sama para penguasa tersebut menjadi kaki tangan Israel dan Amerika. Tidakkah penduduk dunia berpikir bahwa untuk menghentikan kebrutalan Zionis Yahudi ini harus dengan kekerasan juga? Mereka harus diperangi!
Wilayah Palestina yang di dalamnya ada Masjid Aqsha memiliki kedudukan yang sangat suci, strategis dan nilai teologis yang mendalam bagi umat Islam sedunia. Tanah ini bukan sebatas negara dan institusi politiknya, melainkan bagian dari akidah kaum muslim. Karena Masjid Aqsha adalah tempat suci ketiga setelah Masjid Haram dan Masjid Nabawi. Siapa pun yang salat di ketiga tempat tersebut, pahala salatnya dilipatgandakan. Masjid Aqsha juga merupakan kiblat pertama bagi umat akhir zaman, tempat Nabi saw. mengimami para nabi dan rasul sebelum mikraj ke Sidratul Muntaha, dan masih banyak keistimewaan lainnya. Karena itu maka wajar seharusnya umat Islam sedunia mempertahankannya dari penguasaan kaum kafir penjajah. Bagaimana bisa orang beriman rela menyaksikan kehancuran Masjid Aqsha di bawah cengkraman Zionis Yahudi laknatullah?
Palestina adalah barometer umat Islam sedunia. Apa yang terjadi di Palestina, terjadi juga di negeri-negeri Islam yang lain dalam bentuk yang sedikit berbeda. Karena itu jika sekarang Palestina dijajah, sebenarnya negeri-negeri Islam yang lain juga sedang terjajah, disadari atau tidak. Seandainya hanya Palestina yang terjajah, sudah bisa dipastikan negeri Islam yang lain akan menolong dengan sukarela untuk membebaskannya. Mereka tidak akan mengandalkan lembaga-lembaga dunia untuk membela Palestina, tidak hanya mengecam dan mengutuk Zionis Yahudi. Melainkan akan menyatukan kekuatan umat dari seluruh negeri muslim dan bergerak mengusir penjajah Israel laknatullah 'alaih. Karena memang itulah solusi yang masuk akal bagi orang-orang yang berpikir khususnya para pemimpin yang masih mempunyai nurani dan berpegang pada al-Quran dan Sunah. Sudah jelas perintahnya dalam QS. al-Anfal ayat 72:
"Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib menolong mereka."
Hanya saja saat ini dunia Islam tunduk pada ideologi kapitalisme global sehingga secara tidak langsung mereka dijajah. Buktinya negara yang mayoritas penduduknya muslim tidak bisa leluasa menolong saudaranya di Palestina. Padahal mengobarkan jihad dengan mengirim militer untuk membantu para pejuang di Gaza tidak perlu menunggu Khilafah tegak. Namun batas-batas negara bangsa dan ideologi yang diadopsinya hanya bisa membantu secara kemanusiaan dan sebatas diplomasi saja. Karena itu kehadiran Khilafah sangat relevan demi bisa menghentikan kejahatan Zionis Yahudi kepada muslim Palestina.
Khilafah dengan Islam sebagai ideologinya akan mampu menyatukan seluruh potensi yang ada di dunia Islam, termasuk para tentaranya. Mereka akan dipimpin seorang Khalifah untuk melakukan jihad fisabilillah mengusir penjajah Israel. Itulah solusi hakiki untuk membebaskan Masjid Aqsha dan wilayah-wilayah lain di mana di situ kaum muslim tertindas, seperti di Rohingya, Uighur, Sudan dan lain-lain. Untuk mewujudkan solusi tersebut, diperlukan perjuangan berupa dakwah pemikiran tanpa kekerasan bersama kelompok dakwah ideologis. Kelompok inilah yang konsisten tanpa kenal lelah menyampaikan kebenaran dan membangun kesadaran politik umat. Di sana pohon zaitun ditumbangkan, di sini dakwah khilafah disemai dan terus tumbuh hingga tidak lama lagi tegak in syaa Allah.
Wallahu'alam bis shawwab.
