DOHA (Arrahmah.id) - Di tengah gempuran konflik yang tak berkesudahan, sosok Amal al-Hayya, istri dari pemimpin Hamas di Gaza, Khalil al-Hayya, muncul sebagai simbol ketabahan luar biasa. Hingga Mei 2026, ia tercatat telah kehilangan empat putra dan lima cucunya akibat serangan pasukan 'Israel', namun tetap teguh menolak untuk meninggalkan tanah Palestina.
Kematian putra keempatnya, Azzam al-Hayya, dalam serangan di Kota Gaza pada Kamis (7/5/2026), menambah daftar panjang duka keluarga tersebut. Sebelumnya, Azzam sempat menderita luka parah pada 2022 dan menjalani pengobatan di Turki, namun ia bersikeras kembali ke Jalur Gaza untuk melanjutkan perjuangan.
Dalam wawancara eksklusif dengan Al Jazeera Mubasher, Amal al-Hayya memaparkan silsilah pengorbanan keluarganya selama hampir dua dekade, yang dimulai dari gugurnya Hamza bersama istri dan tiga anaknya pada 2008, disusul syahidnya putra tertua, Osama, dalam serangan 'Israel' pada 2014, hingga Hammam yang gugur dalam serangan di Doha 2025.
Puncaknya pada Mei 2026, putra keempatnya, Azzam, gugur di Gaza, meninggalkan Izz al-Din sebagai satu-satunya putra yang masih hidup meski kini dalam kondisi luka parah setelah kehilangan dua anaknya sendiri, Khalil dan Muhammad.
"Saya Meminta Kesyahidan Mereka, Bukan Luka"
Amal al-Hayya mengungkapkan sebuah perspektif yang menggetarkan hati nurani. Ia mengaku tidak pernah bisa mengucapkan selamat tinggal secara langsung kepada putra-putranya yang gugur.
"Saya bersujud syukur ketika Osama dan Azzam gugur. Saya bahkan merasa lebih sedih saat mendengar Azzam terluka parah di masa lalu karena saya takut dia akan menderita. Saya lebih memilih mereka syahid daripada harus menanggung penderitaan luka-luka," ungkapnya dengan nada tenang.
Ia juga menekankan bahwa anak-anak dan cucu-cucunya dengan tegas menolak untuk keluar dari Gaza. Mereka memilih tetap tinggal dan merasakan penderitaan yang sama dengan warga sipil lainnya di bawah blokade.
Bagi Amal, menjadi keluarga pemimpin bukan berarti mendapatkan hak istimewa untuk melarikan diri, melainkan kewajiban untuk berada di garis terdepan. "Anak-anak pemimpin harus maju ke baris depan dan tidak boleh meninggalkan rakyatnya saat sedang melawan pendudukan," tegasnya.
Ia menutup pesannya dengan penghormatan tinggi bagi penduduk Gaza yang ia sebut sebagai "tanda kemuliaan di kening umat", sambil terus berdoa agar pengepungan segera berakhir dan kemenangan diraih oleh rakyatnya. (zarahamala/arrahmah.id)
