KHAN YUNIS (Arrahmah.id) - Sebuah foto yang diambil oleh seorang tentara 'Israel' di dalam kendaraan pengangkut personel militer (APC) menjadi titik terang sekaligus misteri baru bagi Ammar al-Aqqad. Foto tersebut mengungkap nasib ibunya, Aisha al-Aqqad, dan saudara perempuannya, Huda, yang hilang tanpa kabar selama lebih dari dua tahun.
Keluarga Al-Aqqad sebelumnya meyakini bahwa kedua wanita tersebut telah gugur selama invasi darat militer 'Israel' di Kota Khan Yunis, Gaza Selatan, pada akhir 2023. Namun, sebuah potongan video dan foto yang muncul baru-baru ini menunjukkan dua wanita dengan mata tertutup berada di dalam kendaraan militer 'Israel'.
Benang Merah dari Sehelai Hijab
Ammar al-Aqqad menceritakan kepada Al Jazeera bahwa keluarganya mengenali sang ibu melalui hijab shalat yang ia kenakan di dalam foto tersebut. Penemuan ini mengubah duka yang telah berlangsung bertahun-tahun menjadi campuran antara harapan dan ketakutan yang mencekam.
"Munculnya ibu dan saudara perempuan saya di dalam kendaraan militer berarti tentara 'Israel' tahu persis apa yang terjadi pada mereka setelah mereka dikeluarkan dari daerah tersebut," tegas Ammar. Ia menambahkan bahwa rumah keluarganya terletak di dekat rumah mantan pemimpin Hamas, Yahya Sinwar, yang menjadi fokus serangan intensif 'Israel' saat itu.
Sanggahan vs Bukti Visual
Meskipun militer 'Israel' sempat mengeklaim bahwa kedua wanita tersebut dipindahkan dari zona pertempuran ke zona aman, Ammar menyatakan hingga hari ini pihak keluarga tidak pernah menerima pemberitahuan resmi atau bukti keberadaan mereka. Karena keduanya terlihat hidup dalam tahanan militer 'Israel' (terikat dan mata tertutup), Ammar membebankan tanggung jawab penuh atas keselamatan mereka kepada otoritas 'Israel'.
Kasus ini memperpanjang daftar panjang warga Gaza yang mengalami penghilangan paksa selama operasi darat. Laporan hak asasi manusia Palestina menyebutkan ada ribuan orang yang nasibnya tidak diketahui, baik tertimbun reruntuhan maupun ditahan di pusat penahanan rahasia.
Tanpa informasi resmi, keluarga Al-Aqqad hidup dalam ketidakpastian hukum dan sosial, sebuah beban psikologis yang juga dialami ribuan keluarga lain di Gaza.
Di tenda pengungsiannya yang sederhana, Ammar terus menyimpan foto tersebut di ponselnya. Baginya, foto yang diambil oleh tentara 'Israel' itu adalah satu-satunya bukti kuat bahwa orang-orang yang ia cintai mungkin masih bertahan hidup di suatu tempat di balik jeruji besi. (zarahamala/arrahmah.id)
