WASHINGTON (Arrahmah.id) – Pengamat politik Jos Joseph menilai Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemungkinan besar akan mengumumkan kemenangan dalam perang melawan Iran—apa pun hasil sebenarnya di lapangan. Namun, meyakinkan publik Amerika bahwa perang tersebut layak diperjuangkan dinilai hampir mustahil secara politik.
Dalam tulisannya di media Amerika The Hill, Joseph—seorang veteran militer—menyoroti bahwa Trump berulang kali mengubah narasinya terkait perang melawan Iran. Di satu sisi, ia mengklaim konflik telah “selesai sejak hari pertama”, namun di sisi lain ia menyebut perang bisa berlangsung selama “berminggu-minggu” bahkan “berbulan-bulan”.
Di sisi lain, opini publik di Amerika Serikat tetap sangat skeptis terhadap perang ini. Banyak warga menolak keterlibatan militer dan khawatir dampaknya akan memperburuk kondisi mereka, baik secara ekonomi maupun sosial.
Joseph menilai Trump akan tetap berusaha membingkai konflik ini sebagai sebuah kemenangan. Namun di saat yang sama, Partai Republik menghadapi tugas berat: meyakinkan publik yang sudah lelah bahwa pengorbanan dalam perang ini memang sepadan.
Perang yang Sulit Dijual sebagai Kemenangan
Menurut Joseph, setiap pemerintahan Amerika cenderung membingkai perang secara positif, bahkan ketika hasilnya mengecewakan. Ia mencontohkan pengalaman dalam Perang Irak dan Perang Afghanistan, di mana para presiden terus mengklaim kemajuan meski publik semakin frustrasi.
Namun, perang Trump terhadap Iran dinilai jauh lebih sulit untuk dipasarkan sebagai kemenangan. Hal ini karena tujuan perang berubah-ubah secara signifikan selama konflik berlangsung.
Di awal, Trump menuntut “penyerahan tanpa syarat” dari Iran, bahkan sempat mengisyaratkan perubahan rezim. Joseph mengkritik keras target tersebut, seraya mengingatkan bahwa dalam sejarah, penyerahan tanpa syarat hanya terjadi melalui invasi besar dan kehancuran total, seperti pada Perang Dunia II.
Ia juga menyindir kecil kemungkinan skenario di mana pasukan Marinir Amerika mengibarkan bendera di gedung parlemen Iran.
Selain itu, Joseph menyoroti kontradiksi dalam pernyataan Trump: kadang menyebut pemerintah Iran akan runtuh, kadang berbicara soal perubahan rezim, tetapi di saat yang sama tetap membuka jalur negosiasi.
“Jika semua itu benar, lalu dengan siapa sebenarnya kita bernegosiasi?” sindirnya.
Kesepakatan yang Kontroversial
Dalam jalur diplomasi, Joseph menyinggung laporan dari media Axios mengenai kerangka kesepakatan damai yang hanya terdiri dari satu halaman.
Jika benar, kesepakatan tersebut berpotensi memicu krisis kredibilitas bagi Partai Republik. Pasalnya, dalam skema itu, program nuklir Iran tetap berjalan dalam bentuk pembekuan sementara. Selain itu, sanksi akan dicabut, aset Iran yang dibekukan akan dilepas, dan jalur vital energi dunia seperti Selat Hormuz akan kembali dibuka.
Beban Politik yang Membesar
Joseph menilai kondisi ini bertentangan langsung dengan klaim sebelumnya dari pemerintah AS yang menyebut program nuklir Iran telah “dihancurkan sepenuhnya” dan bahwa perubahan rezim adalah tujuan utama.
Kini, pemerintah AS justru bernegosiasi dengan rezim yang sebelumnya mereka anggap tidak sah dan berada di ambang kehancuran.
Lebih jauh, perang ini berpotensi menjadi beban politik besar bagi Partai Republik menjelang pemilu paruh waktu. Meski ada upaya mengamankan peta elektoral, meningkatnya tekanan ekonomi, kelelahan publik terhadap perang, serta tudingan kemunafikan politik menjadi tantangan serius.
Pada akhirnya, Joseph menyimpulkan bahwa Partai Republik berada dalam posisi sulit: antara loyalitas kepada Trump dan meningkatnya ketidakpuasan publik. Dalam kondisi ini, menjual perang sebagai kemenangan strategis dinilai “hampir mustahil”, terutama jika hasil akhir kesepakatan jauh dari janji awal pemerintah.
(Samirmusa/arrahmah.id)
