DOHA (Arrahmah.id) - Menteri pertahanan dari 40 negara yang tergabung dalam misi pertahanan multinasional mengadakan pertemuan darurat untuk membahas mekanisme pemulihan lalu lintas maritim di Selat Hormuz. Jalur vital perdagangan energi dunia tersebut telah mengalami kelumpuhan total selama lebih dari 70 hari akibat konflik bersenjata.
Kementerian Pertahanan Qatar mengonfirmasi partisipasi Wakil Perdana Menteri dan Menteri Negara Urusan Pertahanan, Syeikh Saud bin Abdulrahman bin Hassan Al Thani, dalam pertemuan virtual yang diinisiasi oleh Menteri Pertahanan Inggris John Healey dan Menteri Angkatan Bersenjata Prancis Catherine Vautrin pada Selasa (12/5/2026).
Menteri Pertahanan Inggris, John Healey, menegaskan bahwa misi multinasional ini bertujuan untuk memfasilitasi kebebasan navigasi segera setelah kondisi memungkinkan pasca-kesepakatan krisis tercapai. "Bersama sekutu kami, misi multinasional ini akan bersifat defensif, independen, dan kredibel," ujar Healey.
Sebagai bentuk komitmen, Inggris akan mengerahkan aset militer strategis, meliputi peralatan deteksi ranjau otonom (bawah laut), jet tempur Eurofighter Typhoon, dan kapal perang HMS Dragon.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyatakan bahwa Uni Eropa tengah mengkaji perluasan cakupan misi maritim mereka di Laut Merah (Operation Aspides) hingga menjangkau Selat Hormuz. Langkah ini direncanakan akan diimplementasikan menyusul berakhirnya fase pertempuran aktif di Iran. Kallas menyebutkan bahwa beberapa negara anggota telah berkomitmen untuk menambah jumlah kapal perang demi mendukung perluasan mandat tersebut.
Dampak Kelumpuhan Jalur Global
Teheran secara praktis telah menutup Selat Hormuz sejak dimulainya perang AS-'Israel' terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Penutupan ini berdampak sistemik mengingat sekitar 20% pasokan minyak global yang diangkut melalui laut melintasi selat ini.
Selama sebulan terakhir, Amerika Serikat juga memberlakukan blokade laut di pelabuhan-pelabuhan Iran guna menekan Teheran dalam negosiasi perjanjian damai.
Kelumpuhan navigasi telah menghentikan ekspor minyak secara drastis dan memicu lonjakan tajam harga energi dunia, dengan peringatan akan potensi dampak ekonomi katastrofal jika blokade terus berlanjut. (zarahamala/arrahmah.id)
