GAZA (Arrahmah.id) — Berbeda dengan klaim Perdana Menteri “Israel” Benjamin Netanyahu — yang diburu oleh Mahkamah Pidana Internasional atas tuduhan melakukan kejahatan perang — dan yang pada konferensi pers, Ahad (10/8/2025), membantah terjadinya genosida dan penyiksaan melalui kelaparan di Jalur Gaza, foto-foto yang datang dari wilayah terkepung itu justru menunjukkan sebaliknya: anak-anak meregang nyawa di pelukan ibu mereka, di depan mata dunia.
Laporan lembaga kemanusiaan internasional dan berbagai media Arab maupun Barat mendokumentasikan semakin parahnya krisis kelaparan di Gaza akibat blokade “Israel”. Kementerian Kesehatan di Gaza — dalam laporan terbarunya, Ahad — menyebutkan bahwa jumlah korban meninggal akibat kelaparan dan gizi buruk sejak awal agresi telah mencapai 217 jiwa, termasuk 100 anak.

Dalam foto yang diabadikan oleh jurnalis Al Jazeera, tampak Maryam Abdul Aziz Dawas, 9 tahun, terbaring di ranjang sebuah pusat pengungsian di Kota Gaza, dengan tulang yang menonjol akibat gizi buruk.

Sementara itu, foto lain dari Reuters memperlihatkan Jana Ayad, seorang anak perempuan yang terbaring di rumah sakit di Gaza, menderita gizi buruk parah, tanpa akses pengobatan memadai akibat blokade.

Sumayyah, ibu dari Huda Abu al-Naja, menceritakan bagaimana kondisi putrinya memburuk akibat kelaparan.
Sham Qudaih, balita berusia dua tahun, mengalami pembesaran hati dan gizi buruk akut. Berat badannya kini hanya 4 kilogram. Dokter menyatakan kondisinya kritis dan harus segera keluar dari Gaza untuk mendapatkan perawatan.

Selasa lalu (5/8/2025), Tamer Shuheiber (15) gugur akibat komplikasi gizi buruk. Ibunya menangis saat menceritakan kepada jurnalis bagaimana sang anak kian layu di hadapannya, sementara ia tak bisa berbuat apa-apa.

Alaa al-Najjar juga tampak menangis sambil memeluk bayinya, Yahya, yang baru berusia tiga bulan, setelah sang buah hati wafat karena kelaparan.

Tanpa intervensi segera untuk menghentikan kebijakan kelaparan paksa “Israel”, lebih banyak keluarga di Gaza yang khawatir anak-anak mereka akan segera menyusul menjadi korban kematian akibat kelaparan.

(Samirmusa/arrahmah.id)
