Memuat...

Gideon Levy Bongkar Debat Moral ‘Israel’: Mossad dan Etika Itu Bertentangan

Samir Musa
Kamis, 14 Mei 2026 / 27 Zulkaidah 1447 17:25
Gideon Levy Bongkar Debat Moral ‘Israel’: Mossad dan Etika Itu Bertentangan
Kombo yang menggabungkan kepala Mossad yang baru ditunjuk, Gofman, dan kepala Mossad yang masa jabatannya berakhir, Dedi Barnea, dengan Netanyahu di antara keduanya (Reuters).

TEL AVIV (Arrahmah.id) – Jurnalis ‘Israel’ Giedon Levy melontarkan kritik keras terhadap apa yang ia sebut sebagai “kemunafikan moral” dalam polemik penunjukan kepala badan intelijen Mossad.

Dalam artikelnya di Haaretz pada Kamis (14/5), Levy menyoroti perdebatan internal ‘Israel’ yang mempersoalkan standar moral calon kepala Mossad, sementara rekam jejak operasi intelijen dan militer justru diabaikan.

“Tiba-tiba, kepala Mossad harus menjadi sosok bermoral. Apa hubungan Mossad dengan moralitas?” tulis Levy dengan nada sarkastik.

Ia menyindir bahwa diskusi tersebut seolah-olah berbicara tentang “direktur panti asuhan, bukan direktur rumah jagal”, menggambarkan karakter operasi lembaga intelijen itu.

Levy juga mengkritik badan keamanan dalam negeri ‘Israel’, Shin Bet (Shabak), yang menurutnya terlibat dalam praktik represif terhadap rakyat Palestina.

Sekretaris militer pemerintah ‘Israel’, Roman Gofman (pers Israel).

“Ada yang bertanggung jawab atas mekanisme brutal untuk mengendalikan rakyat lain secara paksa, termasuk pemerasan terhadap orang sakit dan miskin serta penculikan massal warga tak bersalah,” tulisnya.

Ia menyebut Mossad sebagai lembaga yang bertanggung jawab atas berbagai operasi pembunuhan di berbagai negara.

Levy juga menyinggung kepala Mossad saat ini, David Barnea, yang menurutnya terkait dengan sejumlah operasi kontroversial.

Dalam bagian paling tajam, Levy menegaskan bahwa Mossad—yang ia tuding terlibat dalam pengeboman bangunan sipil di Beirut, Gaza, dan Teheran—tidak memiliki hubungan apa pun dengan nilai-nilai moral.

Ia juga mengkritik Mahkamah Agung dan penasihat hukum pemerintah ‘Israel’ karena dianggap terlalu fokus pada isu pribadi kandidat kepala Mossad, sementara persoalan yang lebih besar diabaikan.

“Apakah pembantaian massal itu bermoral? Siapa yang akan memimpin organisasi yang membunuh ‘teroris’, pejabat negara, dan ilmuwan?” ujarnya.

Artikel ini mencerminkan meningkatnya suara kritis dari dalam ‘Israel’ terhadap kebijakan keamanan dan militer, di tengah perang yang terus berlangsung di Gaza serta meningkatnya tekanan internasional.

(Samirmusa/arrahmah.id)