Memuat...

Hari Kebebasan Pers Sedunia: Jurnalis Palestina Membayar Harga Kebebasan di Balik Jeruji

Zarah Amala
Senin, 4 Mei 2026 / 17 Zulkaidah 1447 09:57
Hari Kebebasan Pers Sedunia: Jurnalis Palestina Membayar Harga Kebebasan di Balik Jeruji
Jurnalis Mohammed Abu Thabet telah ditahan selama kurang lebih tiga bulan (Al Jazeera).

TEPI BARAT (Arrahmah.id) - Sementara dunia bersiap merayakan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada 3 Mei, di Palestina berubah menjadi momen untuk mengenang rasa sakit akan kehilangan. Para jurnalis, yang biasanya mengabdikan diri untuk mendokumentasikan kisah dan penderitaan orang lain, kini justru menjadi kisah itu sendiri. Mereka hidup di balik jeruji besi penjara pendudukan 'Israel', meninggalkan keluarga yang berjuang dalam kesabaran dan anak-anak yang harus bergulat dengan rasa kehilangan.

Di kota Beit Dajan dekat Nablus, Nawal Abu Thabit duduk mencoba menghibur cucunya yang berusia dua tahun yang merindukan ayahnya, jurnalis Mohammed Abu Thabit, yang ditahan sejak 10 Februari lalu. Ibu Mohammed berkata dengan hati yang pedih: "Mohammed meninggalkan beban yang berat; 5 orang anak, dan pilar dalam hidup yang kini hilang. Kehilangannya membuat saya menderita, dan harapan tertinggi saya adalah bisa mendekapnya serta mendengar kabar tentangnya."

Keluarga tersebut, seperti ribuan keluarga tawanan lainnya, hidup dalam ketidakpastian. Mereka dilarang menemui pengacara dan tidak ada cara untuk berkomunikasi dengannya. Mohammed ditangkap dari rumahnya dengan tuduhan yang berkaitan dengan karya jurnalistiknya yang mendokumentasikan kejahatan pendudukan. Setiap sore, saat pintu rumah terbuka, anaknya yang masih kecil berteriak: "Papa diambil tentara dan dipukul," sebuah ucapan polos yang kembali membuka luka keluarga.

Kondisi jurnalis tawanan Hazem Nasser, yang ditahan sejak akhir Juli lalu, tidak jauh berbeda. Kehilangannya tidak hanya meninggalkan kekosongan dalam pekerjaannya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari istri dan kedua anaknya.

Ayahnya, Emad Nasser, menceritakan dengan getir bagaimana cucunya menolak merayakan ulang tahun jika tidak dihadiri oleh ayahnya. Cucu kecilnya itu merangkum mimpinya dalam sebuah pemandangan yang menyayat hati, ia melepaskan burung peliharaannya, yang ia beri nama "Papa", dari dalam sangkar ke angkasa, seraya berteriak: "Biarkan ayahku bebas seperti yang kulakukan pada burung ini!" Sang ayah kemudian menyampaikan pesan pedas kepada komunitas internasional: "Sistem dunia yang menciptakan Hari Kebebasan Pers Sedunia tidak menghormati jurnalis, bahkan tidak menghormati manusia."

Statistik yang Menceritakan Kejahatan Sistematis

Sementara itu, lembaga-lembaga tawanan Palestina (Klub Tawanan Palestina dan Komisi Urusan Tahanan) mengungkapkan angka-angka yang mengungkap skala penargetan sistematis terhadap media. Lebih dari 260 jurnalis laki-laki dan perempuan tewas sejak dimulainya perang di Gaza.

Lebih dari 240 jurnalis ditangkap, dengan 40 di antaranya masih ditahan, termasuk 20 orang yang menjadi tahanan administratif (berkas dakwaan rahasia dan durasi penahanan tidak terbatas).

Jurnalis Marwan Herzallah gugur di penjara Megiddo pada Maret lalu akibat kebijakan pembunuhan lambat karena penolakan akses pengobatan.

Dengan tetap ditahannya 14 jurnalis dari Gaza dan dua lainnya yang masih berstatus hilang secara paksa, Hari Kebebasan Pers Sedunia di Palestina hanyalah pengingat akan rasa sakit yang terus bertambah, di tengah diamnya dunia yang oleh para keluarga dan lembaga hak asasi manusia disebut sebagai persekongkolan yang menempatkan kebenaran itu sendiri dalam bahaya kepunahan. (zarahamala/arrahmah.id)