Memuat...

Trump Tolak Proposal Damai Iran, Nilai Tidak Penuhi Kepentingan AS

Hanoum
Senin, 4 Mei 2026 / 17 Zulkaidah 1447 04:38
Trump Tolak Proposal Damai Iran, Nilai Tidak Penuhi Kepentingan AS
Presiden AS Donald trump. [Foto: PBS]

WASHINGTON (Arrahmah.id) --  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal damai yang diajukan Iran, dengan alasan kesepakatan tersebut tidak memenuhi kepentingan keamanan nasional AS dan sekutunya di kawasan Timur Tengah.

Penolakan itu disampaikan pada awal Mei 2026, di tengah meningkatnya ketegangan pascakonflik antara AS dan Iran. Berdasarkan laporan CNBC dan The Jerusalem Post (3/5/2026), proposal Iran mencakup sejumlah poin deeskalasi, termasuk penghentian serangan dan pembukaan jalur diplomatik baru.

Namun, pemerintahan Trump menilai isi proposal tersebut belum memberikan jaminan konkret terkait program nuklir Iran dan aktivitas militernya di kawasan. Gedung Putih juga menilai Iran belum menunjukkan komitmen yang dapat diverifikasi untuk menghentikan dukungan terhadap kelompok bersenjata di Timur Tengah.

Dalam pernyataannya, Trump menegaskan sikap keras terhadap tawaran tersebut.

“Kami tidak akan menerima kesepakatan yang tidak menjamin keamanan Amerika dan sekutu kami,” ujar Donald Trump sebagaimana dikutip CNBC.

Sumber diplomatik menyebut proposal Iran berisi upaya untuk meredakan konflik yang meningkat sejak awal tahun, termasuk kemungkinan pembatasan aktivitas militer tertentu. Namun, pihak AS tetap bersikukuh bahwa tekanan maksimum terhadap Iran akan terus dilanjutkan hingga tuntutan utama dipenuhi.

Penolakan ini memperkecil peluang tercapainya solusi diplomatik dalam waktu dekat, sekaligus meningkatkan risiko berlanjutnya ketegangan di kawasan. Sejumlah analis menilai langkah tersebut mencerminkan strategi negosiasi keras Washington, tetapi juga berpotensi memperpanjang konflik.

Hingga kini, belum ada respons resmi terbaru dari pemerintah Iran terkait penolakan tersebut, sementara komunitas internasional terus mendorong kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan guna menghindari eskalasi lebih lanjut. (hanoum/arrahmah.id)