Memuat...

Komandan Al-Qassam Menulis Buku dari Dalam Terowongan, Kisah Syuhada Mohammed Zaki Hamad

Zarah Amala
Senin, 4 Mei 2026 / 17 Zulkaidah 1447 10:15
Komandan Al-Qassam Menulis Buku dari Dalam Terowongan, Kisah Syuhada Mohammed Zaki Hamad
Gambar syuhada Muhammad Zaki Hamad dari kota Beit Hanoun, Jalur Gaza utara (dihasilkan menggunakan AI)

GAZA (Arrahmah.id) - Kisah syuhada  Mohammed Zaki Hamad (lahir 1994) bukan sekadar catatan tentang seorang komandan lapangan di Brigade Al-Qassam. Ia telah berubah menjadi ikon inspiratif di media sosial sejak gugurnya pada 12 Juli 2025. Sang syuhada, yang memadukan pelatuk dan Al-Qur'an di jantung Kamp Al-Shati dan Beit Hanoun, meninggalkan warisan yang tidak hanya terbatas pada aksi militer, melainkan juga dokumentasi sastra dan intelektual yang langka dari dalam terowongan.

Di saat Kota Beit Hanoun mengalami operasi militer paling sengit, Mohammed Hamad menuliskan kesaksian lapangannya dalam sebuah buku berjudul Di Bawah Panji Banjir (Tahta Rayat al-Tufan).

Buku ini bukan sekadar memoar, melainkan kesaksian hidup dari dalam simpul pertempuran dan terowongan, di mana ia mendokumentasikan perjuangan berat yang dipikul oleh para pejuang, mulai dari memperbaiki terowongan dengan peralatan primitif hingga tugas-tugas yang hampir mustahil seperti mencari besi dan kayu dari rumah-rumah yang hancur untuk memperbaiki jaringan air dan listrik di bawah pengawasan udara yang intens.

Buku ini mengungkap besarnya upaya fisik yang melelahkan di balik setiap operasi, dengan pengakuan bahwa untuk menyelesaikan satu meter benteng saja, dibutuhkan kerja 10 pejuang sepanjang hari.

Generasi Al-Qur'an di Garis Depan

Para aktivis dan penulis menggambarkan Hamad sebagai sosok generasi Al-Qur'an yang unik. Medan perang tidak menghalanginya untuk melanjutkan proyek dakwahnya. Sang syuhada dikenal karena kemampuannya melafalkan Al-Qur'an secara penuh dalam satu sesi duduk, dan ia dikenal sebagai salah satu pendiri proyek Shafwah al-Huffaz (Pilihan Para Penghafal).

Rekaman video mendokumentasikan sesi pembacaan Al-Qur'an bersama rekan-rekannya di dalam terowongan, mengubah titik-titik pertempuran menjadi lingkaran ilmu dan zikir, sebuah pemandangan yang oleh jurnalis Khair al-Din al-Jabari digambarkan sebagai penguat jiwa di saat-saat paling sulit.

Sifat manusiawi Hamad memberikan sentuhan lembut pada kepribadiannya yang tegas. Media sosial membagikan klip spontan dirinya saat mendamaikan kedua anaknya, serta doa minta hujan yang direkam dengan suaranya bersama sang anak, Zaki.

Ia meninggalkan wasiat menyentuh kepada putranya, Zaki, yang berbunyi: "Engkau akan tumbuh dewasa, Nak, dan engkau akan melihat besarnya permusuhan terhadap Islam.. Maka pikullah senjataku dan ikutilah aku, jangan takut akan kematian, dan tempuhlah jalan jihad, karena kehidupan di jalan Allah membuat musuh-musuh Allah murka."

Saksi Hidup di "Segitiga Teror"

Dalam komentarnya mengenai video Segitiga Merah yang terkenal, aktivis Tamer Qadeeh menunjukkan bahwa di balik setiap detik cuplikan tersebut terdapat kisah-kisah yang tak terungkap, mulai dari risiko dalam menyiapkan penyergapan hingga pengerahan tenaga fisik dan mental yang luar biasa. Mohammed Zaki Hamad telah mewujudkan sosok komandan yang tidak hanya memberi perintah, tetapi menjalani detail penderitaan anak buahnya, memberikan teladan keteguhan di antara senjata dan mihrab.

Buku Di Bawah Panji Banjir tetap menjadi saksi dari fase sejarah yang luar biasa, dan kisah Mohammed Zaki Hamad tetap menjadi ikon yang menceritakan generasi yang memilih untuk menulis sejarah dengan darah dan kata-kata, menantang puing-puing Beit Hanoun dan kegelapan terowongan, agar panji Banjir tetap tegak sebagaimana yang ia cita-citakan. (zarahamala/arrahmah.id)