SANA'A (Arrahmah.id) - Kelompok Houtsi di Yaman memperingatkan Amerika Serikat (AS) akan menghadapi respons cepat dan menyakitkan jika Washington terlibat langsung dalam perang Yaman. Ancaman ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan serangan Arab Saudi terhadap kelompok tersebut.
Anggota biro politik Houtsi, Mohammed al-Bukhaiti, menyampaikan peringatan itu dalam wawancara dengan kantor berita AFP pada Senin (12/10/2026).
“Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan berlama-lama mempertimbangkan keputusan untuk membalas. Sebaliknya, akan ada respons cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS serta seluruh kepentingannya di kawasan,” kata Al-Bukhaiti.
Ia juga memperingatkan seluruh pegawai dan pekerja di fasilitas minyak serta bandara Arab Saudi agar menjauhi lokasi-lokasi tersebut. Menurutnya, fasilitas itu kini telah menjadi target yang sah bagi kelompoknya.
Peringatan Houtsi disampaikan ketika serangan terhadap wilayah Arab Saudi terus berlanjut. Pada Senin (12/10) malam, ledakan terdengar di Riyadh setelah koalisi militer pimpinan Saudi mengumumkan telah mencegat sebuah rudal yang ditembakkan ke arah ibu kota.
Koalisi tersebut kemudian menyatakan telah mencegat dan menghancurkan dua rudal balistik yang mengarah ke Khamis Mushait, kota di wilayah selatan Arab Saudi yang menjadi lokasi pangkalan militer.
Houtsi juga mengklaim kembali menargetkan bandara di Riyadh serta melancarkan serangan drone ke pangkalan militer di Khamis Mushait. Namun, klaim mengenai sasaran serangan tersebut perlu dibedakan dari keterangan resmi koalisi mengenai proyektil yang berhasil dicegat.
Eskalasi ini menyusul serangan pada Sabtu (10/10) di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, yang menewaskan 13 orang dan melukai ratusan lainnya, menurut laporan AFP. Serangan tersebut disebut sebagai serangan paling mematikan di wilayah Arab Saudi dalam lebih dari satu dekade.
Sehari kemudian, serangan lain di bandara yang sama dilaporkan menewaskan satu orang dan melukai 11 orang. Rangkaian serangan itu mendorong otoritas Saudi menangguhkan operasional bandara, yang pada Senin masih belum beroperasi.
Trump mengatakan pada Senin (12/10) bahwa pemerintahannya sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan serangan Saudi terhadap Houtsi. Ia menyebut tindakan kelompok tersebut sebagai perilaku yang sangat buruk dan mengatakan serangan terhadap bandara Riyadh tidak dapat diterima.
Trump juga menyatakan akan berbicara dengan Putra Mahkota Mohammed bin Salman, penguasa de facto Arab Saudi, mengenai situasi tersebut.
Menurut laporan AFP, Riyadh dilaporkan telah meminta bantuan Washington untuk menghadapi serangan Houtsi. Namun, belum ada keputusan resmi yang diumumkan mengenai keterlibatan langsung militer AS dalam operasi Saudi.
Al-Bukhaiti mengatakan kampanye serangan terhadap sasaran Saudi bertujuan mengirimkan pesan kepada Mohammed bin Salman bahwa Arab Saudi tidak bisa terus melancarkan serangan terhadap Yaman tanpa menghadapi konsekuensi.
Sementara itu, Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman mengatakan serangkaian serangan baru-baru ini telah menguji infrastruktur, lembaga, masyarakat, dan ketahanan negaranya.
“Peristiwa beberapa pekan terakhir sangat serius. Respons kami harus sama seriusnya,” ujarnya dalam sebuah konferensi di Riyadh pada Senin (12/10).
Situasi keamanan yang memburuk turut mengganggu penerbangan internasional. Maskapai Etihad Airways dari Uni Emirat Arab mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan dari dan menuju Riyadh hingga pekan berikutnya, serta menghentikan sementara penerbangan ke Dammam dan Jeddah.
Maskapai Bahrain, Gulf Air, juga membatalkan penerbangan ke Riyadh hingga Sabtu. Sementara itu, Delta Air Lines dari AS menunda peluncuran rute langsung Atlanta–Riyadh yang semula dijadwalkan pada 23 Oktober.
Kedutaan Besar AS di Arab Saudi meminta pegawai pemerintah AS memperoleh izin sebelum menggunakan bandara di negara tersebut. Kedutaan juga mengimbau warga AS meningkatkan kewaspadaan dan menyebut sejumlah warga Amerika telah ditahan karena mengambil foto peristiwa terkait situasi keamanan terbaru.
Peringatan keamanan dikeluarkan ketika pertahanan udara Saudi terus menghadapi serangan rudal dan drone yang menyasar ibu kota serta sejumlah fasilitas strategis.
Thomas Juneau, analis keamanan dari Universitas Ottawa, mengatakan luas wilayah Arab Saudi membuat negara tersebut sulit melindungi seluruh infrastrukturnya secara konsisten, meskipun sebagian serangan berhasil dicegat.
Arab Saudi telah memimpin koalisi internasional yang mendukung pemerintah Yaman sejak 2015 dalam konflik melawan Houtsi. Perang saudara yang kembali meningkat pada Juli 2026 itu kini berlangsung di tengah konflik regional yang lebih luas dan turut mengguncang pasar energi.
Di tengah eskalasi tersebut, Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia Volker Türk menyatakan prihatin atas serangan berulang terhadap Arab Saudi dan mendesak kedua pihak menahan diri. Ia memperingatkan bahwa pertempuran lanjutan hanya akan memperparah penderitaan tanpa memberikan jalan keluar yang jelas. (zarahamala/arrahmah.id)
