NEW DELHI (Arrahmah.id) -- Sedikitnya tujuh masjid dihancurkan seluruhnya atau sebagian di berbagai wilayah India sepanjang September 2026, menurut laporan Islamophobia Monitor (12/10/2026). Laporan tersebut mencatat dua masjid dirobohkan sepenuhnya dan lima lainnya dibongkar sebagian. Lima dari tujuh masjid itu disebut memiliki nilai sejarah, termasuk bangunan yang telah berdiri lebih dari satu abad.
Dilansir Clarion India (12/10), laporan berjudul India’s Mosques Under Attack: Demolitions, Threats and Rising Islamophobia menyebutkan bahwa pembongkaran dilakukan oleh otoritas setempat dengan alasan beragam, mulai dari dugaan bangunan ilegal, pelebaran jalan, penertiban lahan, hingga proyek pembangunan.
Sejumlah tindakan disebut berkaitan dengan perintah pengadilan. Namun, laporan itu mempertanyakan apakah prosedur hukum dan kewenangan administratif telah diterapkan secara setara terhadap tempat ibadah dari berbagai komunitas agama.
Salah satu kasus terjadi di Ujjain, negara bagian Madhya Pradesh. Pada 28 September, sebagian struktur Masjid Shahi yang diperkirakan berusia sekitar 600 tahun terdampak proyek pelebaran jalan untuk persiapan Simhastha Kumbh Mela 2028, sebuah perayaan ziarah besar umat Hindu. Pengelola masjid disebut menyepakati pengurangan bagian bangunan sekitar tiga kaki. Namun, sebuah menara masjid dilaporkan runtuh ke arah dalam dan merusak bagian interior.
Pemerintah setempat menyebut kerusakan itu sebagai kecelakaan, sedangkan sejumlah warga mempertanyakan kejadian tersebut. Ketegangan antara demonstran dan polisi juga terjadi, dengan aparat menggunakan gas air mata untuk membubarkan massa.
Kasus lainnya terjadi di Shalimar Bagh, New Delhi. Pada 23 September, aparat pemerintah kota membongkar sebagian Masjid Madina dalam operasi yang dilakukan pada malam hari. Pemerintah menyebut tindakan itu berkaitan dengan proyek pelebaran jalan dan dugaan pendudukan lahan secara ilegal.
Menurut laporan yang dikutip Radiance News, aktivis Nadeem Khan mengatakan sidang yang dijadwalkan pada 21 September tidak berlangsung karena pengacara pemerintah tidak hadir.
Di Saharanpur, negara bagian Uttar Pradesh, sebuah masjid yang diperkirakan berusia sekitar 150 tahun di kompleks kantor administrasi distrik dibongkar pada 5 September. Tindakan tersebut dilakukan setelah pengadilan setempat menolak banding pengelola masjid terhadap perintah pengosongan bangunan. Pengelola menyatakan lahan tersebut merupakan tanah wakaf dan merujuk dokumen dari 1911.
Pada 11 September, Pengadilan Tinggi Allahabad menangguhkan penagihan denda sekitar 641 juta rupee yang dikenakan dalam perkara tersebut serta meminta tanggapan pemerintah negara bagian.
Al Jazeera juga melaporkan meningkatnya ketegangan di Ujjain terkait pembongkaran sebagian Masjid Shahi. Dalam laporannya pada 30 September, Al Jazeera menyebut umat Islam setempat menggelar penjagaan dan protes karena khawatir masjid akan dihancurkan sepenuhnya. Peristiwa itu mencerminkan ketegangan antara kebutuhan pembangunan yang dikemukakan pemerintah dan kekhawatiran warga mengenai perlindungan tempat ibadah serta penerapan prosedur hukum.
Selain tujuh masjid yang dibongkar seluruhnya atau sebagian, Islamophobia Monitor mencatat sedikitnya delapan kasus lain selama September yang melibatkan pemberitahuan pembongkaran, denda, penghentian pembangunan, atau pemeriksaan dokumen lahan. Tujuh kasus tersebut berada di Uttar Pradesh dan satu di Maharashtra. Laporan itu juga mendokumentasikan sejumlah pidato provokatif, ancaman terhadap tempat ibadah, serta insiden pelemparan batu ke masjid dan madrasah di Bhatkal, Karnataka.
Pada 29 September, kelompok Monitoring Committee of Indian Muslims menggelar aksi protes di Jantar Mantar, New Delhi, untuk menentang tindakan terhadap masjid dan tempat ibadah. Sejumlah demonstran, termasuk beberapa anggota parlemen, dilaporkan ditahan polisi. Organisasi Council on American-Islamic Relations dan Indian American Muslim Council turut menyerukan perhatian internasional terhadap persoalan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
