Memuat...

'Israel' Terus Perluas Wilayah Pendudukan dan Lumpuhkan Institusi Keamanan di Gaza

Zarah Amala
Senin, 20 Juli 2026 / 6 Safar 1448 12:15
'Israel' Terus Perluas Wilayah Pendudukan dan Lumpuhkan Institusi Keamanan di Gaza
Asap mengepul setelah serangan 'Israel' di wilayah sebelah barat Kota Gaza yang melukai sejumlah warga Palestina (Getty)

GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah perhatian dunia yang tercurah pada eskalasi militer antara Amerika Serikat dan Iran serta dampak penutupan Selat Hormuz, situasi di Jalur Gaza kian memburuk. Meski gencatan senjata secara teknis telah disepakati sejak Oktober 2025, fakta di lapangan menunjukkan bahwa perang di Gaza tidak pernah benar-benar berakhir.

Serangkaian serangan udara, pengeboman artileri, dan operasi pembunuhan terarah terus menghantui warga Gaza. Salah satu insiden tragis baru-baru ini terjadi ketika sebuah serangan udara 'Israel' menghantam apartemen di barat laut Kota Gaza, menewaskan lima anggota keluarga. Hanya satu anak yang selamat karena berada di luar rumah saat serangan terjadi.

Kementerian Kesehatan Gaza mencatat, sejak gencatan senjata diberlakukan, sebanyak 1.144 warga Palestina telah tewas dan 3.703 lainnya terluka akibat pelanggaran berulang yang dilakukan pasukan 'Israel'. Hamas mengutuk aksi tersebut sebagai kejahatan perang yang disengaja dan bagian dari upaya untuk melanjutkan kebijakan pemusnahan massal.

Selain pengeboman, 'Israel' dilaporkan terus meluaskan zona kendali militer di lapangan. Jika dalam perjanjian Oktober 2025 'Israel' sepakat untuk menempati 53% wilayah Gaza pada tahap awal, data otoritas lokal kini menunjukkan bahwa kendali 'Israel' telah melampaui 60%, dengan ambisi pemerintah Benjamin Netanyahu untuk memperluasnya hingga 70%. Saat ini, terdapat 32 situs militer yang diperkuat dengan barikade beton dan tanggul tanah, menciptakan zona Garis Oranye yang sangat berbahaya bagi warga sipil.

Tekanan militer beriringan dengan penyempitan akses bantuan kemanusiaan. Kementerian Pembangunan Sosial Palestina melaporkan bahwa Gaza hanya menerima sekitar 190 hingga 250 truk bantuan per hari, atau kurang dari 35% dari total kebutuhan harian. Hal ini menyebabkan kelangkaan pangan yang akut, di mana 77% penduduk Gaza berada dalam kondisi kritis. Lebih dari 100.000 anak kini menghadapi risiko malnutrisi parah, bersama dengan puluhan ribu ibu hamil dan menyusui.

Analis politik Ahmad Al-Tanani menilai bahwa serangan Israel juga secara sistematis menargetkan institusi kepolisian dan aparat keamanan di Gaza. Menurutnya, ini adalah langkah sengaja untuk menciptakan kekacauan sosial dan melumpuhkan tata kelola internal, di saat dunia sedang dialihkan oleh perkembangan krisis regional.

Menanggapi pengabaian internasional terhadap krisis ini, para aktivis, jurnalis, dan pekerja kemanusiaan meluncurkan kampanye digital bertajuk Dzabuu Alaykum (Kalian Dibohongi) pada 16 Juli lalu. Kampanye ini bertujuan untuk membongkar narasi bahwa gencatan senjata telah membawa kedamaian bagi warga Gaza. Melalui testimoni para penyintas dan video anak-anak Gaza yang menunjukkan kenyataan pahit di lapangan, mereka menegaskan bahwa di balik tajuk berita internasional, Gaza masih terus menghadapi pembantaian, kelaparan, dan kehancuran. (zarahamala/arrahmah.id)