Memuat...

Kasus Penyekapan YSR di Bandung Jadi Sorotan, Kemenkes Ingatkan Bahaya Grooming

Ameera
Kamis, 25 Juni 2026 / 10 Muharam 1448 17:33
Kasus Penyekapan YSR di Bandung Jadi Sorotan, Kemenkes Ingatkan Bahaya Grooming
Kasus Penyekapan YSR di Bandung Jadi Sorotan, Kemenkes Ingatkan Bahaya Grooming

BANDUNG (Arrahmah.id) - Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap YSR selama sekitar tiga tahun di sebuah rumah kontrakan di Bandung menjadi sorotan publik.

Korban diduga mengalami tindakan grooming yang berujung pada kekerasan fisik, hingga menyebabkan luka parah di wajah dan sejumlah bagian tubuh lainnya.

Grooming bukan sekadar rayuan manis atau perhatian berlebihan. Perilaku ini merupakan strategi manipulatif yang dilakukan secara sistematis.

Pelaku biasanya mendekati korban dengan sikap penuh perhatian, memberikan hadiah, atau mengumbar janji-janji yang membuat korban merasa istimewa dan bergantung secara emosional.

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Imran Pambudi, mengatakan pencegahan grooming membutuhkan kesadaran dan peran aktif seluruh elemen masyarakat.

"Dimulai dari keluarga harus menjadi ruang aman bagi anak dan perempuan untuk bercerita tanpa takut dihakimi," kata Imran, Kamis (25/6).

Menurutnya, penguatan literasi digital juga menjadi langkah penting agar masyarakat lebih waspada terhadap berbagai bentuk manipulasi, terutama yang terjadi di ruang digital.

Selain itu, korban harus mendapatkan dukungan yang memadai, mulai dari layanan psikologis, penanganan medis, hingga perlindungan hukum yang nyata.

Imran menegaskan bahwa grooming bukanlah persoalan sepele. Praktik tersebut merupakan jalan sunyi menuju kekerasan yang dapat menghancurkan kehidupan seseorang.

Dengan mengenali tanda-tanda grooming, membangun komunikasi yang terbuka, serta berani melapor ketika menemukan indikasi kekerasan, masyarakat dapat membantu memutus rantai manipulasi tersebut.

"Grooming adalah bentuk kekerasan tersembunyi. Ia bisa menjerat siapa saja, baik anak maupun dewasa. Masyarakat harus waspada, berempati, dan berani bertindak agar tidak ada lagi korban yang terjebak dalam lingkaran manipulasi dan kekerasan," pungkasnya.

(ameera/arrahmah.id)