HEBRON (Arrahmah.id) -- Ketegangan di Tepi Barat yang diduduki kembali meningkat setelah sekelompok pemukim 'Israel' membakar sebuah masjid di Desa At-Tuwani, wilayah Masafer Yatta, sebelah selatan Hebron, Sabtu (19/7/2026).
Selain membakar bagian bangunan masjid, seperti dilansir Anadolu Agency (20/7), para pelaku juga mencorat-coret dinding dengan tulisan “Havat Gilad” — nama pos permukiman ilegal Israel — serta simbol Bintang Daud, memicu kecaman dari warga Palestina dan organisasi hak asasi manusia.
Menurut keterangan warga setempat, serangan terjadi pada dini hari ketika sejumlah pemukim memasuki desa dan menyasar Masjid At-Tuwani. Api menghanguskan sebagian area masjid sebelum berhasil dipadamkan oleh warga.
Pada saat yang hampir bersamaan, para pemukim juga menyerang properti warga Palestina dan menyebabkan beberapa orang mengalami luka-luka.
Kepala Dewan Desa At-Tuwani, Jihad Al-Nawajaa, mengatakan bahwa warga menemukan tulisan berbahasa Ibrani dan simbol-simbol yang merujuk pada kelompok pemukim ekstremis di lokasi kejadian.
“Kami mendapati masjid dibakar dan dindingnya dicorat-coret dengan nama Havat Gilad serta simbol Bintang Daud. Ini adalah serangan terhadap tempat ibadah dan masyarakat kami,” ujar Al-Nawajaa seperti dikutip Anadolu Agency.
Selain pembakaran masjid, laporan Anadolu Agency menyebut sedikitnya empat warga Palestina terluka akibat serangan pemukim di beberapa lokasi berbeda di wilayah Tepi Barat. Korban mengalami luka akibat pemukulan dan lemparan batu ketika berusaha melindungi rumah serta lahan mereka dari serangan kelompok pemukim.
France24 melaporkan bahwa serangan terhadap masjid di At-Tuwani terjadi di tengah meningkatnya kekerasan pemukim terhadap warga Palestina sejak pecahnya perang Gaza.
Organisasi-organisasi pemantau HAM mencatat peningkatan tajam jumlah serangan terhadap desa-desa Palestina, termasuk pembakaran rumah, kendaraan, lahan pertanian, dan tempat ibadah.
Sementara itu, militer Israel menyatakan telah menerima laporan mengenai insiden tersebut dan sedang melakukan penyelidikan. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi mengenai penangkapan pelaku pembakaran masjid maupun pihak yang bertanggung jawab atas aksi vandalisme tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah organisasi internasional sebelumnya telah berulang kali memperingatkan bahwa kekerasan yang dilakukan pemukim Israel di Tepi Barat berpotensi memperburuk situasi keamanan dan menghambat upaya penyelesaian konflik Palestina-Israel.
Mayoritas komunitas internasional juga menganggap permukiman Israel di wilayah pendudukan sebagai ilegal berdasarkan hukum internasional, meskipun Israel menolak penilaian tersebut.
Dalam beberapa bulan terakhir, kawasan Masafer Yatta menjadi salah satu titik panas konflik di Tepi Barat. Wilayah itu sering menjadi lokasi bentrokan antara warga Palestina dan pemukim Israel karena sengketa lahan serta perluasan permukiman.
Pembakaran masjid di At-Tuwani kini menambah daftar panjang insiden yang memicu kekhawatiran akan meningkatnya ketegangan antar-komunitas di wilayah pendudukan tersebut.
Otoritas Palestina mengecam keras insiden tersebut dan menyerukan perlindungan internasional terhadap warga sipil Palestina serta tempat-tempat ibadah.
Hingga Minggu (20/7), warga At-Tuwani masih melakukan pembersihan dan perbaikan bagian masjid yang rusak akibat serangan tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
