WASHINGTON (Arrahmah.id) - Sebuah penilaian intelijen terbaru yang dirilis oleh Bloomberg mengungkap bahwa Iran berhasil mempertahankan kemampuan militer strategisnya meskipun mengalami kerusakan infrastruktur yang parah dan kehilangan sejumlah pimpinan puncaknya. Perencanaan operasional yang matang sebelum konflik pecah disebut menjadi faktor kunci yang mencegah kehancuran total armada rudal dan pesawat nirawak (drone) milik Teheran.
Meskipun AS dan 'Israel' telah meluncurkan serangan sejak 28 Februari lalu, laporan tersebut menyoroti beberapa poin krusial. Iran memiliki rencana darurat untuk segera mengganti komandan militer senior yang tewas, sehingga gangguan pada struktur kepemimpinan selama hari-hari pertama perang dapat diminimalisir.
Pejabat Eropa dan Teluk mengonfirmasi bahwa Iran masih menyimpan cadangan besar rudal jarak jauh dan ribuan unit drone dalam gudang senjatanya. Mantan negosiator AS, Nate Swanson, menyebut Iran memiliki keunggulan ekonomi dengan menggunakan sistem serang murah yang memaksa musuh-musuhnya menghabiskan sistem pertahanan udara yang sangat mahal.
Rezim Tetap Solid Pasca-Gugurnya Pemimpin Tertinggi
Salah satu poin paling mengejutkan dalam penilaian intelijen Barat adalah stabilitas politik Iran. Meski Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Agung Ali Larijani telah terbunuh dalam operasi pembunuhan, sistem politik Iran dilaporkan tetap bersatu. Kemampuan rezim untuk mengambil keputusan politik yang krusial diklaim tidak terganggu oleh hilangnya tokoh-tokoh kunci tersebut.
Pejabat Barat menyatakan kepada Bloomberg bahwa Amerika Serikat mungkin membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan tambahan serangan intensif untuk benar-benar melumpuhkan kemampuan Iran. Namun, beberapa pihak memperingatkan bahwa kemampuan industri dan nuklir Iran mungkin tidak akan pernah bisa dihancurkan sepenuhnya melalui serangan udara saja.
Nate Swanson mencatat bahwa Iran kini mengandalkan pilar pencegahan keempat, yaitu kendali atas Selat Hormuz, setelah tiga pilar sebelumnya (program rudal, nuklir, dan proksi regional) mengalami tekanan berat sejak 2023.
Hingga saat ini, perang yang telah menewaskan lebih dari 3.000 orang tersebut masih berada dalam ketidakpastian. Gencatan senjata dua minggu yang dimulai 8 April lalu terancam gagal setelah negosiasi di Islamabad, Pakistan, berakhir buntu pada Ahad (13/4/2026) tanpa kesepakatan final untuk mengakhiri perang secara permanen. (zarahamala/arrahmah.id)
