Memuat...

Saudi-Mesir Bangun Koridor Baru, Hindari Risiko Selat Hormuz

Hanoum
Jumat, 17 April 2026 / 29 Syawal 1447 09:25
Saudi-Mesir Bangun Koridor Baru, Hindari Risiko Selat Hormuz
Jalur alternatif baru menghindari Selat Hormuz. [Foto: x]

KAIRO (Arrahmah.id) -- Arab Saudi dan Mesir disebut sedang mengembangkan koridor logistik alternatif guna mengamankan jalur perdagangan dan distribusi energi tanpa melalui Selat Hormuz, yang saat ini menjadi titik rawan akibat konflik regional.

Dilansir MSN (16/4/2026), proyek ini dilakukan secara bertahap dan relatif tertutup, dengan fokus pada penguatan jalur darat dan pipa energi yang menghubungkan kawasan Teluk dengan Laut Merah hingga Mediterania.

Langkah ini diambil sebagai respons atas meningkatnya risiko gangguan di Selat Hormuz, jalur vital yang selama ini menjadi titik utama distribusi minyak dan gas dunia. Ketegangan akibat konflik Iran dengan Amerika Serikat dan 'Israel' membuat kawasan tersebut semakin tidak stabil.

Seorang analis energi regional menyatakan, “Negara-negara Teluk kini tidak hanya bereaksi terhadap krisis, tetapi mulai membangun sistem logistik jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan pada Hormuz.”

Dalam skema yang dikembangkan, Arab Saudi memanfaatkan jaringan pipa lintas wilayah seperti jalur timur-barat menuju Laut Merah, sementara Mesir mengoptimalkan infrastruktur seperti pipa SUMED yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania sebagai jalur alternatif distribusi energi global.

Selain itu, proyek ini juga mencakup penguatan jalur logistik darat dan pelabuhan untuk mempercepat distribusi barang dari kawasan Teluk ke pasar internasional tanpa harus melewati jalur laut yang berisiko tinggi.

Upaya ini dilakukan pada 2026, di tengah perang dan ketegangan yang belum mereda di kawasan Timur Tengah. Lokasi pengembangan mencakup wilayah Arab Saudi, Mesir, serta jalur penghubung strategis di Laut Merah. Tujuannya adalah menjaga stabilitas pasokan energi dan perdagangan global, sekaligus mengurangi dampak gangguan geopolitik terhadap ekonomi kawasan.

Laporan lain menyebut bahwa negara-negara Teluk kini semakin serius membangun infrastruktur alternatif sebagai strategi jangka panjang, bukan sekadar solusi sementara.

Secara historis, Selat Hormuz merupakan jalur penting yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Namun kapasitas jalur alternatif yang ada saat ini masih belum sepenuhnya mampu menggantikan peran strategis selat tersebut.  (hanoum/arrahmah.id)