YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu menyebut Indonesia dalam pidato videonya saat menolak tudingan bahwa 'Israel' merupakan negara penjajah yang merampas tanah rakyat Palestina. Pada Jumat (16/10/2026), Netanyahu membandingkan 'Israel' dengan kolonialisme Belanda di Indonesia dan Belgia di Kongo untuk membantah kritik mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama mengenai sejarah berdirinya 'Israel' dan hilangnya tanah Palestina.
Dilansir CNN (19/10), pernyataan itu muncul setelah Obama, dalam sebuah diskusi di Belfast, Irlandia Utara, pada Selasa (13/10), mengatakan bahwa 'Israel' telah mengambil tanah dari penduduk Palestina dan bertindak berlebihan.
Obama menyampaikan pandangan tersebut saat membahas konflik Israel-Palestina serta dampak perang di Gaza. Menurutnya, kekuatan militer 'Israel' tidak dapat menjadi jaminan keamanan jangka panjang apabila tidak disertai upaya mencari penyelesaian yang adil bagi kedua bangsa.
Menanggapi kritik tersebut, Netanyahu menyatakan bahwa bangsa Yahudi bukanlah penjajah asing di tanah yang mereka anggap sebagai tanah leluhur. Dalam video berbahasa Inggris yang diunggah melalui akun X miliknya, ia mengatakan sejarah bangsa Yahudi bukanlah proyek kolonial dan tanah Israel bukan tanah curian.
Ia menyebut wilayah tersebut sebagai Yudea, nama historis yang digunakan dalam tradisi Yahudi, serta menegaskan hubungan bangsa Yahudi dengan kawasan itu selama ribuan tahun.
Netanyahu kemudian menyampaikan kalimat yang mengaitkan Indonesia dengan perdebatan tersebut.
“Kami bukan orang Belanda di Indonesia, bukan pula orang Belgia di Kongo. Kami adalah orang Yahudi di Yudea,” ujarnya.
Perbandingan itu digunakan untuk menolak penyamaan sejarah pembentukan 'Israel' dengan kolonialisme Eropa di wilayah lain, termasuk penjajahan Belanda di Nusantara.
Selain membantah tuduhan kolonialisme, Netanyahu menyatakan 'Israel' bukan penghalang utama perdamaian di Timur Tengah. Ia justru menuding musuh-musuh 'Israel' dan Amerika Serikat sebagai pihak yang menolak mengakui hak bangsa Yahudi untuk memiliki negara.
Netanyahu menegaskan pemerintahannya tidak akan mempertaruhkan kelangsungan hidup 'Israel' demi memenuhi tuntutan pihak-pihak yang, menurutnya, menolak keberadaan negara tersebut.
Pernyataan Obama sendiri tidak hanya membahas sejarah berdirinya 'Israel'. Mantan presiden AS itu juga mengakui bahwa orang Yahudi mengalami penganiayaan dan diskriminasi selama berabad-abad, termasuk di Eropa, sehingga membutuhkan tempat berlindung. Namun, ia menekankan bahwa pengalaman tersebut tidak menghapus penderitaan rakyat Palestina yang kehilangan tanah.
Obama juga mengatakan jutaan warga Palestina dan 'Israel' akan tetap hidup di kawasan itu, sehingga penyelesaian konflik perlu mempertimbangkan hak dan masa depan kedua masyarakat.
Perdebatan tersebut berlangsung ketika persoalan pendudukan dan permukiman 'Israel' di wilayah Palestina masih menjadi sorotan internasional. Pada 2024, Mahkamah Internasional dalam pendapat nasihatnya menyatakan keberadaan 'Israel' yang berkelanjutan di Wilayah Palestina yang Diduduki adalah melanggar hukum internasional dan menegaskan kewajiban mengakhiri kebijakan yang mempertahankan situasi tersebut.
'Israel' menolak sejumlah penilaian internasional mengenai status wilayah dan kebijakannya, sementara pemerintah Palestina dan banyak negara menuntut penghentian pendudukan serta terwujudnya negara Palestina merdeka. (hanoum/arrahmah.id)
