ISLAMABAD (Arrahmah.id) -- Pakistan dilaporkan telah mengerahkan sekitar 8.000 personel militer, satu skuadron jet tempur, serta sistem pertahanan udara ke Arab Saudi di tengah meningkatnya ketegangan konflik Iran dengan Amerika Serikat dan 'Israel'. Pengerahan tersebut disebut menjadi bagian dari pakta pertahanan bilateral antara Islamabad dan Riyadh yang ditandatangani tahun lalu.
Dilansir Reuters (19/5/2026), pengerahan dimulai sejak awal April 2026 dan melibatkan jet tempur JF-17 buatan Pakistan-China, drone tempur, hingga sistem pertahanan udara HQ-9 asal China. Sejumlah pejabat keamanan Pakistan mengatakan pasukan tersebut disiapkan untuk membantu mempertahankan Arab Saudi apabila terjadi serangan lanjutan di kawasan Teluk.
Menteri Pertahanan Pakistan Khawaja Asif sebelumnya mengatakan kerja sama pertahanan Islamabad dan Riyadh mencakup komitmen saling membantu apabila salah satu negara diserang. Ia menyebut, “Perjanjian ini mengharuskan Pakistan dan Arab Saudi saling datang membantu jika terjadi serangan.”
Menurut Reuters, Pakistan mengirim sekitar 16 pesawat tempur, sebagian besar JF-17, bersama dua skuadron drone dan personel pengoperasi sistem pertahanan udara. Selain itu, ada laporan bahwa kapal perang Pakistan juga dapat dilibatkan dalam kerja sama militer tersebut, meski belum ada konfirmasi resmi apakah armada laut sudah tiba di Arab Saudi.
Pemerintah Pakistan dan Arab Saudi hingga kini belum mengeluarkan pernyataan resmi rinci mengenai jumlah pasukan maupun detail operasi militer tersebut. Namun Kementerian Pertahanan Arab Saudi sebelumnya mengonfirmasi kedatangan kontingen Angkatan Udara Pakistan di Pangkalan Udara King Abdulaziz sebagai bagian dari penguatan kerja sama pertahanan strategis kedua negara.
Media The National melaporkan pengerahan jet tempur Pakistan dilakukan di tengah kekhawatiran akan kemungkinan serangan rudal dan drone Iran terhadap wilayah Teluk. Kerja sama itu juga disebut mencakup pertukaran intelijen, pengerahan gabungan, dan koordinasi menghadapi ancaman regional.
Langkah Pakistan ini dinilai signifikan karena Islamabad sebelumnya berupaya memainkan peran sebagai mediator dalam konflik Iran dengan Amerika Serikat. Reuters melaporkan Pakistan bahkan sempat menjadi tuan rumah pembicaraan gencatan senjata antara Washington dan Teheran sebelum situasi kembali memanas.
Hubungan militer Pakistan dan Arab Saudi sendiri telah berlangsung selama puluhan tahun. Riyadh diketahui kerap memberikan bantuan finansial kepada Islamabad, sementara Pakistan beberapa kali mengirim pelatih militer dan pasukan ke kerajaan tersebut untuk mendukung keamanan kawasan Teluk. (hanoum/arrahmah.id)
