YERUSALEM (Arrahmah.id) -- Nama Yasser Abbas kembali menjadi sorotan setelah putra Presiden Palestina Mahmoud Abbas itu terpilih masuk Komite Sentral Fatah, badan pengambil keputusan tertinggi gerakan nasionalis Palestina tersebut. Terpilihnya Yasser memicu spekulasi luas bahwa ia tengah dipersiapkan untuk meneruskan kepemimpinan sang ayah di tengah isu suksesi politik Palestina yang semakin menguat.
Dilansir Reuters (17/5/2026), Yasser Abbas merupakan putra kedua Presiden Palestina Mahmoud Abbas atau Abu Mazen. Ia dikenal sebagai pengusaha kaya Palestina yang memiliki bisnis di sektor konstruksi, telekomunikasi, dan rokok di Tepi Barat. Selama bertahun-tahun, Yasser lebih dikenal di dunia bisnis dibanding politik praktis, meski dalam beberapa tahun terakhir perannya di lingkaran kekuasaan Palestina mulai meningkat.
Pria berusia 64 tahun itu sebagian besar diketahui tinggal di Kanada, namun tetap aktif dalam jaringan politik dan ekonomi Palestina. Sekitar lima tahun lalu, Mahmoud Abbas menunjuk Yasser sebagai “perwakilan khusus presiden”, langkah yang dinilai banyak analis sebagai awal keterlibatan formalnya dalam politik Palestina.
Momentum penting terjadi pada Kongres Umum Fatah ke-8 yang digelar di Ramallah, Gaza, Kairo, dan Beirut pekan lalu. Dalam pemungutan suara internal tersebut, Yasser Abbas berhasil memperoleh kursi di Komite Sentral Fatah, lembaga tertinggi yang menentukan arah politik gerakan Fatah sekaligus memiliki pengaruh besar terhadap Otoritas Palestina.
Dalam pernyataan pertamanya setelah terpilih, Yasser Abbas menegaskan fokus politiknya akan diarahkan pada Gaza dan isu kemanusiaan Palestina. Dalam kutipan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Yasser Abbas mengatakan, “Prioritas kami adalah Gaza, para tahanan, keluarga syuhada, dan kamp-kamp pengungsi.”
Kenaikan politik Yasser Abbas memunculkan kritik dari sebagian kader Fatah dan masyarakat Palestina yang menilai proses tersebut sarat nepotisme. Financial Times melaporkan banyak pihak khawatir Mahmoud Abbas sedang berupaya mempertahankan pengaruh keluarganya di tengah krisis legitimasi Otoritas Palestina yang telah lama dituduh korup dan gagal menggelar pemilu nasional.
Mahmoud Abbas sendiri telah memimpin Palestina sejak 2005 setelah wafatnya Yasser Arafat. Masa jabatannya secara teknis berakhir pada 2009, namun pemilu presiden Palestina terus tertunda hingga sekarang. Di usia 90 tahun, isu mengenai siapa penerus Abbas menjadi salah satu topik paling sensitif dalam politik Palestina.
Selain Yasser Abbas, sejumlah nama lain juga disebut sebagai kandidat penerus Mahmoud Abbas, termasuk Hussein al-Sheikh yang kini menjabat wakil presiden PLO, serta Kepala Intelijen Palestina Majed Faraj. Namun masuknya Yasser Abbas ke struktur inti Fatah dipandang sebagai langkah penting yang dapat memperkuat posisinya dalam perebutan pengaruh politik Palestina ke depan. (hanoum/arrahmah.id)
