SANA'A (Arrahmah.id) - Angkatan Bersenjata Yaman yang berafiliasi dengan gerakan Ansarallah mengklaim menembak jatuh sebuah drone pengintai Arab Saudi setelah pesawat tanpa awak tersebut memasuki wilayah udara Yaman di atas Provinsi Hajjah, Yaman barat laut.
Sumber militer Yaman mengatakan kepada Kantor Berita Yaman (SABA) pada Ahad (23/8/2026) bahwa drone tersebut merupakan jenis ScanEagle. Menurut sumber itu, drone dijatuhkan menggunakan senjata yang sesuai ketika sedang menjalankan misi pengintaian di wilayah tersebut.
Sumber tersebut tidak memberikan keterangan lebih lanjut mengenai lokasi jatuhnya drone maupun jenis senjata yang digunakan untuk menembaknya.
Insiden itu terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan militer antara Sanaa dan Riyadh setelah gencatan senjata yang telah berlangsung selama beberapa tahun antara kedua pihak mengalami keruntuhan.
Beberapa hari sebelumnya, Ansarallah mengumumkan tiga persamaan atau prinsip militer baru yang disebut akan menjadi dasar responsnya terhadap tindakan Arab Saudi terhadap Yaman.
Prinsip pertama disebut blokade dibalas blokade, sedangkan prinsip kedua adalah menyerang konsentrasi militer Saudi di mana pun berada.
Prinsip ketiga berfokus pada melindungi kedaulatan Yaman dan menghadapi setiap bentuk pelanggaran wilayah negara.
Penembakan jatuh drone ScanEagle tersebut dinilai sejalan dengan prinsip ketiga, mengingat Sanaa berulang kali memperingatkan akan merespons pelanggaran terhadap wilayah udara Yaman.
Pada Kamis (20/8), Ansarallah juga mengumumkan dua operasi drone yang menargetkan sebuah lokasi sensitif di Bandara Najran dan fasilitas Aramco di Najran. Kelompok tersebut mengatakan serangan dilakukan sebagai respons terhadap dugaan penerobosan wilayah udara Yaman oleh drone Saudi di Provinsi Saada.
Konfrontasi terbaru ini terjadi setelah hubungan antara Sanaa dan Riyadh memburuk secara tajam menyusul serangan Saudi terhadap Bandara Internasional Sanaa pada Juli lalu.
Setelah serangan tersebut, Ansarallah menyatakan bahwa gencatan senjata dengan Arab Saudi yang dimulai pada 2022 secara efektif telah runtuh. Kelompok itu kemudian mengumumkan blokade laut yang menargetkan kepentingan Saudi.
Sanaa menyebut kebijakan tersebut sebagai bagian dari prinsip blokade dibalas blokade dan eskalasi dibalas eskalasi.
Pengumuman itu disampaikan setelah demonstrasi besar berlangsung di Sanaa dan sejumlah provinsi Yaman lainnya. Ansarallah menyebut aksi tersebut sebagai bentuk dukungan masyarakat terhadap langkah-langkah militernya terhadap Arab Saudi.
Sejak itu, Ansarallah mengumumkan serangkaian operasi yang menargetkan kepentingan militer dan ekonomi Saudi, termasuk pengerahan militer serta kapal-kapal di sekitar Mokha dan fasilitas Aramco di Jizan dan Najran.
Ansarallah menyatakan operasi tersebut akan terus dilakukan selama apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran Saudi terhadap kedaulatan Yaman dan blokade terhadap negara itu masih berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)
