TEHERAN (Arrahmah.id) - Presiden Iran Masoud Pezeshkian membela nota kesepahaman (MoU) yang baru-baru ini disepakati, dan menyebutnya sebagai jalan terbaik bagi Iran untuk keluar dari situasi yang ia gambarkan sebagai kondisi “bukan perang, bukan damai”.
Dalam pidato yang diterbitkan kantor berita pemerintah IRNA pada Ahad (23/8/2026), Pezeshkian mengatakan anggota Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran menilai nota kesepahaman tersebut sebagai kesepakatan terbaik yang dapat dicapai berdasarkan martabat, kebijaksanaan, dan kepentingan nasional Iran.
“Tidak ada satu pun ketentuan dalam kesepakatan ini yang berarti menyerah,” kata Pezeshkian. Ia menegaskan bahwa kebijakan Iran ditetapkan oleh Pemimpin Tertinggi dan pemerintah akan mengikuti arah tersebut.
Nota kesepahaman yang ditandatangani kedua negara pada Juni menetapkan tenggat ambisius selama 60 hari untuk mengakhiri perang dengan Iran sekaligus mencapai kesepakatan mengenai program nuklir Iran.
Namun, tenggat tersebut berakhir pekan lalu tanpa adanya kesepakatan final. Kedua pihak masih memiliki perbedaan tajam, terutama terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran penting bagi perdagangan global.
Pezeshkian juga mengaitkan kesepakatan tersebut dengan prospek ekonomi Iran. Menurutnya, Iran akan kesulitan menarik investasi selama berada dalam kondisi ketidakpastian seperti sekarang.
“Modal dan uang sangat sensitif terhadap risiko,” ujarnya. “Kita harus menghilangkan risiko ini dari negara.”
Hampir enam bulan setelah perang dengan Amerika Serikat dan 'Israel' berlangsung, perekonomian Iran menghadapi tekanan akibat sanksi dan blokade laut.
Di tengah situasi tersebut, pemimpin baru Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran yang berhaluan keras memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak bergabung dengan upaya baru Amerika Serikat untuk menekan perekonomian Iran.
“Jika ingin melakukan sesuatu, kami akan membalas dengan cara yang mengguncang,” kata Mohsen Rezaei dalam wawancara dengan televisi pemerintah yang disiarkan pada Sabtu (22/8).
Rezaei ditunjuk pada bulan ini sebagai bagian dari sejumlah pergantian pejabat senior yang secara luas dipandang memperkuat sikap politik dan militer Teheran.
Dalam wawancara tersebut, yang menjadi pernyataan publik terpanjangnya sejak menjabat, Rezaei mengatakan Iran akan menargetkan jalur pengiriman minyak keluar dari Teluk Persia, yang menjadi alternatif bagi Selat Hormuz, jika negara-negara tetangga bergabung dalam apa yang disebutnya sebagai perang ekonomi terhadap Iran.
Dalam sepekan terakhir, Presiden Amerika Serikat Donald Trump berulang kali mengancam akan meningkatkan tekanan terhadap Iran melalui tingkat perang ekonomi dan isolasi yang disebutnya “belum pernah terjadi sebelumnya”.
Iran sendiri telah berada di bawah berbagai sanksi ekonomi selama bertahun-tahun. (zarahamala/arrahmah.id)
