GAZA (Arrahmah.id) - Sebuah pesawat kargo raksasa milik Amerika Serikat mendarat di Bandara Ben Gurion pada Jumat, membawa truk militer Oshkosh yang sarat peralatan berat. Kan News melaporkan bahwa pesawat Antonov An-124 itu tiba langsung dari Uni Emirat Arab, menandakan keterlibatan militer AS yang terus berlanjut bahkan di tengah genosida Gaza.
Data penerbangan mengonfirmasi rute tersebut. Kiriman ini menambah aliran rutin suplai militer yang masuk ke 'Israel' setiap pekan.
Menurut Center for International Policy, 'Israel' telah menerima lebih dari 4,2 miliar dolar perlengkapan militer AS antara Oktober 2023 hingga Mei 2025. Pengiriman tersebut mencakup tank, bahan peledak, amunisi, dan suku cadang pesawat. Selain itu, AS juga mengucurkan 3,3 miliar dolar per tahun dalam program Foreign Military Financing dan 500 juta dolar untuk pertahanan rudal.
Transfer senjata yang berlangsung tanpa henti memicu perdebatan panas di Washington. Sejumlah anggota Kongres memperingatkan bahwa pengiriman senjata tanpa syarat dapat membuat AS ikut bertanggung jawab jika militer 'Israel' menggunakan peralatan itu dalam serangan yang menewaskan warga sipil. Mereka menuntut syarat ketat dan jaminan penuh bahwa 'Israel' bertindak sesuai hukum humaniter internasional.
Kelompok HAM menegaskan bahwa kehancuran di Gaza menimbulkan tanggung jawab politik dan moral bagi AS. Mereka menyerukan investigasi independen atas dampak senjata buatan Amerika dalam genosida tersebut.
Opini publik di AS juga mengalami perubahan. Jajak pendapat terbaru menunjukkan 51% warga AS menolak peningkatan bantuan militer untuk 'Israel', sementara hanya 39% yang mendukungnya. Para analis menilai tren ini dapat menekan para legislator untuk meninjau kembali kebijakan AS terhadap 'Israel'.
Meski ada tekanan tersebut, pemerintahan AS belum menunjukkan tanda-tanda perubahan kebijakan. Pejabat hanya menyatakan bahwa mereka “mengharapkan 'Israel' melindungi warga sipil” dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Uni Emirat Arab juga terus mempertahankan hubungan erat dengan 'Israel', meskipun genosida Gaza telah menewaskan sekitar 70.000 warga Palestina. Media Israel melaporkan bahwa proyek kereta cepat UEA–'Israel' tetap berlanjut selama agresi berlangsung. Saluran i24 News menyebut Menteri Transportasi 'Israel', Miri Regev, melakukan kunjungan tidak dipublikasikan ke Abu Dhabi pekan lalu untuk mendorong proyek tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)
