Memuat...

PKS Kutuk Serangan "Israel", Desak Evaluasi Keanggotaan BoP dan Jaminan Keamanan Pasukan UNIFIL

Ameera
Selasa, 31 Maret 2026 / 12 Syawal 1447 19:47
PKS Kutuk Serangan "Israel", Desak Evaluasi Keanggotaan BoP dan Jaminan Keamanan Pasukan UNIFIL
PKS Kutuk Serangan "Israel", Desak Evaluasi Keanggotaan BoP dan Jaminan Keamanan Pasukan UNIFIL

JAKARTA (Arrahmah.id) - Sekretaris Jenderal Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Kholid, menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya prajurit TNI, Farizal Rhomadhon, yang menjadi korban serangan Israel saat menjalankan misi perdamaian dunia di Lebanon.

Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (30/3), Kholid menyampaikan belasungkawa atas wafatnya prajurit yang tergabung dalam misi United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL).

Ia menyebut almarhum sebagai prajurit kebanggaan bangsa yang gugur saat menjalankan tugas mulia menjaga perdamaian internasional.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Kami menyampaikan belasungkawa mendalam atas gugurnya Praka Farizal Rhomadhon akibat serangan Israel,” ujar Kholid.

PKS juga mengutuk keras serangan tersebut dan menegaskan bahwa tindakan Israel merupakan pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Menurut Kholid, insiden ini bukan hanya menjadi kehilangan besar bagi Indonesia, tetapi juga menunjukkan bahwa sistem perdamaian global tengah berada dalam ancaman serius.

Lebih lanjut, PKS mendesak Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia untuk mengambil langkah diplomatik yang lebih tegas di forum internasional.

Termasuk di dalamnya mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan komunitas global agar menjatuhkan sanksi berat kepada Israel.

Selain itu, PKS menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap posisi Indonesia dalam berbagai forum perdamaian internasional.

Salah satu yang disorot adalah kemungkinan meninjau kembali keterlibatan Indonesia dalam Board of Peace (BoP), apabila dinilai tidak lagi efektif dalam menjaga perdamaian dan keadilan global.

PKS juga menekankan bahwa keselamatan pasukan penjaga perdamaian harus menjadi prioritas utama.

Jika tidak ada jaminan keamanan yang memadai dari PBB, pemerintah diminta mempertimbangkan langkah strategis, termasuk mengevaluasi keberlanjutan pengiriman pasukan Indonesia dalam misi UNIFIL.

Di akhir pernyataannya, Kholid menyerukan agar seluruh pihak menghentikan agresi dan kembali menempuh jalur dialog serta diplomasi demi menjaga stabilitas dan perdamaian dunia.

“Pengorbanan Praka Farizal Rhomadhon adalah pengingat bahwa agresi tidak boleh dibiarkan tanpa sanksi. Dunia harus bertindak untuk melindungi mereka yang menjaga perdamaian,” tutupnya.

(ameera/arrahmah.id)