(Arrahmah.id) - Kehebatan manusia itu karena dia berpikir. Akal itu ibarat hamparan bumi, dan berpikir itu kerja mengelola bumi itu. Semakin dalam pikirannya, semakin bervariasi tanaman di atas bumi itu. Binatang itu makhluk yang tidak punya akal, makanya perhatiannya hanya pada memenuhi kebutuhan hidupnya saja; makan, minum, seks, jalan-jalan, dan tidur.
Betapa rugi manusia itu bila pola pikirnya hanya memikirkan kehidupannya, padahal ada yang lebih penting dari itu yaitu berpikir tentang masa depannya setelah mati; akhirat.
Dalam kehidupan dunia, kita bisa mengukur cara berpikir manusia:
Pertama, dari pembicaraannya yang dibahas terkait makanan, minuman, tentang orang, dst. Ini tanda orang yang dangkal cara berpikirnya.
Kedua, pembicaraannya seputar peristiwa yang terjadi. Orang ini sedang cara berpikirnya.
Ketiga, pembicaraannya tentang hari esok dan masa depan, dia merancang roadmap apa yang akan dia lakukan ke depan. Orang ini panjang akalnya.
Keempat, pembicaraannya tentang kesuksesan akhirat dan bagaimana menata masa depan yang sesungguhnya itu. Ini orang jenius. Pantas kalau Prof. B.J. Habibie mengatakan di hadapan para mahasiswa Indonesia di Mesir sebelum beliau wafat; "Kalau saya disuruh pilih imtaq (iman dan taqwa) atau iptek (ilmu dan teknologi), maka saya akan pilih imtaq." Harusnya ini menjadi panduan nasional, sesuai dengan:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
Dan carilah (pahala) negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.
(QS. Al-Qashash, 28: 77)
Karena itu nilaimu, you are what do you think!!
Allah mengajarkan kita untuk berpikir dalam sejumlah ayat dalam Al-Qur'an, di antaranya:
اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَاخْتِلَافِ الَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى الْاَلْبَابِ (190) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَامًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَاطِلًاۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ (191)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran, 3: 190–191)
سَنُرِيْهِمْ اٰيٰتِنَا فِى الْاٰفَاقِ وَفِيْٓ اَنْفُسِهِمْ حَتّٰى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ اَنَّهُ الْحَقُّۗ اَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ اَنَّهٗ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur'an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
(QS. Fushshilat, 41: 53)
وَفِيْٓ اَنْفُسِكُمْ ۗ اَفَلَا تُبْصِرُوْنَ
dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
(QS. Adz-Dzaariyat, 51: 21)
Terkait dengan berpikir tentang ayat-ayat qur'aniyyah dan kauniyyah, inner journey dan outer journey. Apa yang dipikirkan manusia itu tertuang dalam 8 hal pokok:
Pertama, memikirkan tentang surga. Hal itu hanya dapat informasinya dari wahyu Allah.
Kedua, jalan-jalan yang harus ditempuh menuju surga itu.
Ketiga, memikirkan tentang neraka juga informasinya dari Allah dan RasulNya.
Keempat, jalan-jalan menuju neraka yang harus dihindarinya.
Kelima, berpikir tentang bagaimana sukses secara duniawi. Inilah yang menjadi fokus para motivator.
Keenam, berpikir tentang jalan-jalan menuju kesuksesan duniawi.
Ketujuh, berpikir tentang kegagalan. Betapa pahitnya kegagalan itu, apalagi bila terulang-ulang, sehingga harus belajar dari kegagalan itu sendiri.
Kedelapan, jalan-jalan menuju kegagalan yang harus dihindari. Seperti malas, melemah, tidak disiplin, terburu-buru, bodoh, zalim, dst. Itu ringkasan dari pandangan-pandangan Ibnul Qayyim dalam bukunya, Miftah Daris-Sa'adah, dalam 2 juz.
Pemikir di dunia ini tidak banyak. Makanya sekarang dikembangkan pola berpikir strategis. Ilmu futurologi terkait membaca keadaan ke depan berdasar dari masa lalu dan sekarang. Fenomena wabah dibicarakan oleh berbagai kalangan, termasuk tua dan muda; tentang asal-usulnya, perkembangannya, cara penyebarannya, akibat yang ditimbulkannya, bagaimana pengaruhnya dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, negara bahkan dunia global. Apa dampak politik, ekonomi, keamanan, sosial, dan bagaimana penanganan korban-korbannya, dst. Bagaimana mengelola krisis ini agar tidak berdampak pada biaya sosial yang mahal?
Puasa Ramadhan adalah momen penting untuk berpikir rasional objektif karena perut dilatih kosong sepanjang hari, dari Subuh sampai Maghrib, agar murni dan tajam cara berpikirnya supaya senantiasa terhubung dengan yang positif, maslahat dan manfaat dunia-akhirat. Aamiin.
(*/arrahmah.id)
