WASHINGTON (Arrahmah.id) - Di tengah guncangan perang besar melawan Iran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, Presiden Donald Trump memilih jalan yang sangat tidak lazim bagi seorang Panglima Tertinggi Amerika Serikat. Berbeda dengan tradisi kepresidenan AS saat menghadapi krisis global, Trump memilih tetap berada di resor pribadinya, Mar-a-Lago, Florida, alih-alih memimpin dari Gedung Putih.
Langkah ini memicu perdebatan luas mengenai transparansi dan akuntabilitas pemerintah dalam memulai aksi militer berskala besar yang telah merenggut nyawa tiga tentara AS dan puluhan warga di kawasan tersebut.
Sejarawan kepresidenan, Michael Beschloss, mencatat bahwa Trump telah memutus tradisi sejarah di mana biasanya seorang presiden menyampaikan pidato resmi dari Ruang Oval untuk menjelaskan urgensi perang kepada rakyat.
Trump hanya mengumumkan serangan melalui video berdurasi 8 menit yang diunggah ke media sosial dan mengonfirmasi kematian Khamenei melalui platform Truth Social.
Di saat jet tempur AS dan 'Israel' membombardir Teheran, Trump justru tetap menghadiri acara makan malam penggalangan dana politik. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, membela tindakan tersebut dengan menyebut aktivitas politik itu lebih penting dari sebelumnya.
Dalam video pengumumannya, Trump mengeklaim serangan tersebut bertujuan melenyapkan ancaman mendesak (imminent threats). Namun, laporan dari The New York Times menyebutkan bahwa beberapa elemen dasar yang disampaikan Trump dan penasihatnya mengenai ancaman Iran tersebut bersifat palsu atau tidak terbukti.
Mantan pejabat Departemen Luar Negeri, Matthew Bartlett, menyebut pendekatan ini sebagai prinsip "Tembak dulu, jawab pertanyaan belakangan," yang membuat publik Amerika terbangun dalam kondisi perang tanpa penjelasan memadai dari pemimpin mereka.
Meskipun menuai kritik tajam, kubu loyalis Trump tetap memberikan pembelaan penuh. Direktur Komunikasi Gedung Putih, Steven Cheung, menyatakan melalui platform X bahwa sang Presiden tetap fokus pada misinya. "Jangan panik! Percayalah pada Trump!" tulis Cheung guna menenangkan publik yang khawatir akan eskalasi perang regional. (zarahamala/arrahmah.id)
