AMMAN (Arrahmah.id) -- Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat setelah dua anggota militer Amerika Serikat tewas dan satu lainnya dinyatakan hilang dalam serangan rudal dan drone yang menghantam pangkalan udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Insiden yang terjadi pada Jumat malam (18/7/2026) waktu setempat itu menjadi salah satu serangan paling mematikan terhadap pasukan AS sejak pecahnya konflik terbuka antara Washington dan Teheran pada tahun ini.
Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan, seperti dilansir The Washington Post (19/7/2026), bahwa serangan tersebut dilakukan menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak yang diluncurkan dari arah Iran.
Selain menewaskan dua personel militer, serangan itu juga menyebabkan sejumlah tentara lainnya terluka dan harus dievakuasi untuk mendapatkan perawatan medis. Satu anggota militer AS hingga kini masih dinyatakan hilang dan operasi pencarian terus dilakukan.
Pangkalan Udara Muwaffaq Salti yang terletak di Azraq, Yordania timur, selama ini menjadi salah satu fasilitas utama bagi operasi militer Amerika Serikat dan koalisinya di kawasan Timur Tengah.
Serangan tersebut menandai pertama kalinya dalam beberapa bulan terakhir pasukan AS mengalami korban jiwa langsung akibat serangan yang dikaitkan dengan Iran setelah gencatan senjata sebelumnya runtuh.
Dalam pernyataannya, CENTCOM menegaskan bahwa pihaknya akan terus memburu pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
"Kami berduka atas gugurnya para prajurit kami dan tetap berkomitmen untuk melindungi personel serta kepentingan Amerika Serikat di kawasan," demikian pernyataan Komando Pusat AS yang dikutip sejumlah media internasional.
Laporan Washington Post menyebutkan bahwa serangan ke pangkalan di Yordania itu langsung memicu gelombang serangan balasan Amerika Serikat terhadap sejumlah fasilitas militer Iran.
Beberapa lokasi yang diklaim digunakan untuk penyimpanan rudal, drone, dan sistem pengawasan di wilayah selatan Iran dilaporkan menjadi sasaran serangan udara AS dalam beberapa jam setelah insiden tersebut.
Sementara itu, media-media Iran melaporkan bahwa serangan terhadap aset-aset Amerika di kawasan merupakan bagian dari respons terhadap operasi militer AS sebelumnya.
Namun hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Iran yang secara langsung mengakui keterlibatan dalam serangan yang menewaskan dua tentara Amerika di Yordania.
Menurut Wall Street Journal, serangan tersebut juga menyebabkan kerusakan pada sejumlah pesawat militer berawak dan tanpa awak yang berada di pangkalan.
Para pejabat pertahanan AS kini tengah menyelidiki bagaimana sistem pertahanan udara di pangkalan tersebut dapat ditembus oleh rudal dan drone yang digunakan dalam serangan.
Hingga Sabtu (19/7), operasi pencarian terhadap satu anggota militer yang hilang masih berlangsung. CENTCOM mengungkapkan bahwa tim investigasi bahkan menemukan sisa-sisa jasad yang belum teridentifikasi di area terdampak serangan dan sedang melakukan pemeriksaan forensik untuk memastikan identitasnya. (hanoum/arrahmah.id)
