Maraknya kasus bunuh diri yang dilakukan anak membuat pemerintah mengambil sikap serius untuk menangani masalah ini. Antara lain kerja sama sembilan lembaga kementerian dan menerbitkan Surat Keputusan Bersama (SKB). Sembilan menteri yang dimaksud adalah, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlundungan Anak (Menteri PPPA) Afifah Fauzi, Mendugbangga/Kepala BKKBN Wihaji, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian, Menteri Agama (Menag) Nasrudin Umar, Menteri Sosial (Mensos) Saefullah Yusuf, Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid, serta Kepala Polisi Negeri Republik Indonesia (Kapolri) Jendral Polisi Listsyo Sigit Prabowo.
Menteri PPPA Afifah Fauzi menyatakan "ini adalah momen penting terkait isu kesehatan jiwa anak, yang tidak bisa ditangani oleh satu kementerian saja. Sembilan kementerian ini telah berbagi peran untuk memperkuat penanganan kesehatan jiwa anak secara bersama."
Bahkan pihaknya telah melakukan Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) tahun 2024, yang salah satu poin utamanya menyoroti masalah kesehatan jiwa. Hasilnya, ditemukan fakta bahwa 7,20 persen anak mengalami masalah kesehatan jiwa. Dari angka tersebut sebanyak 62,19 persen mengalami kekerasan fisik, emosional maupun seksual, hal itu sangat berpengaruh pada gangguan kesehatan jiwa anak. (KemenPPPA, go.id, 06/03/2026)
Dirilis dari Kemenkes, data healing119.id dan KPAI, setidaknya ada 4 faktor utama pemicu keinginan anak mengakhiri hidup yaitu karena konflik keluarga (24–46 persen); masalah psikologis (8–26 persen); perundungan (14–18 persen); serta tekanan akademik (7–16 persen).
Berdasarkan data di atas, kondisi anak di negeri ini berada dalam taraf memprihatinkan. Semakin hari krisis kesehatan jiwa anak semakin meningkat apalagi di zaman digital saat ini, tindakan tersebut semakin santer bahkan sudah merambah ke desa-desa. Parahnya, di antara pemicunya justru datang dari lingkungan terdekat korban seperti keluarga dan sekolah.
Kehidupan sekuler liberal yang kini menjadi profil masyarakat muslim menjadikan manusia jauh dari nilai-nilai agama. Agama dipahami sebatas ibadah mahdah semata, sedangkan kehidupan di masyrakat dan negara bebas tanpa batas. Halal haram bukan lagi menjadi tolok ukur dalam perbuatan, namun kesenangan materi dan kepuasan naluri yang mendominasi kaum muslim saat ini. Hal ini tersebab kehidupan ala Barat menjadi kiblat dan dikagumi serta menjadi tujuan yang harus diperjuangkan.
Akibatnya, nilai-nilai Islam di tengah masyarakat semakin hari makin tergerus oleh nilai-nilai sekuler liberal dengan hegemoni media kapitalisme global. Tayangan, konten-konten, pemberitaan media telah meracuni pemikiran kaum muslim hingga mereka terbuai dengan angan-angan semu yang memabukkan.
Sistem kapitalis sekuler telah mengobrak-abrik kehidupan kaum muslim dari mulai sistem pendidikan, kesehatan, sosial, ekonomi, politik, keamanan bahkan pemerintahan dan sendi kehidupan lainnya. Negara yang seharusnya menjadi penjaga akidah, pemelihara rakyat serta memastikan kehidupan Islam berjalan di tengahnya, kini abai karena sibuk melayani oligarki demi menepati deal-deal politik terhadap kroni-kroninya.
Pendidikan sebagai modal utama dalam mensukseskan kehidupan dunia maupun akhirat, baik itu pendidikan di keluarga, di sekolah maupun di lingkungan masyarakat tidak lagi berpijak pada akidah dan syariat Islam. Parameter sukses diukur dari kesuksesan yang bersifat materi. Sehingga akidah umat menjadi lemah, rapuh, gampang putus asa bila keinginannya tidak terpenuhi. Hal itu terjadi bukan hanya pada orang dewasa tetapi anak-anak pun mengalami hal yang sama.
Maka wajar bundir seolah menjadi solusi atas beratnya tekanan hidup, karena tatanan kehidupan rusak secara sistemik. Jika penyelesaiannya hanya penandatanganan SKB dari beberapa kementerian saja, sama sekali tidak menjadi solusi dan tidak menyentuh akar permasalahan. Karena itu berakar dari sistem kehidupan yang diterapkan yaitu kapitalis sekuler.
Untuk keluar dari kesulitan tersebut dibutuhkan sistem yang sahih yang datang dari pencipta manusia Allah Swt. yaitu sistem Islam. Islamlah satu-satunya sistem kehidupan yang mampu menjaga manusia berjalan sesuai dengan fitrahnya dan bundir adalah salah satu perbuatan yang diharamkan, Allah Swt. berfirman:
"......Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah adalah maha penyayang keladamu." (TQS An-Nisa ayat 29)
Dari itu penguasa dalam Islam akan sangat memperhatikan pada setiap jiwa masyarakatnya. Karena tugas mereka adalah sebagai ra'in ( pengurus) dan junnah (pelindung) rakyatnya, dengan memastikan semua kebijakan bersumber dari syariatNya.
Sistem pendidikan Islam yang berasaskan akidah islam akan membentuk manusia mempunyai pemikiran dan kepribadian Islam, hal itu akan menjadikan seseorang itu cerdas, tangguh dan kuat mentalnya dalam menghadapi tangtangan zaman. Didukung pula oleh sistem kesehatan yang menggratiskan setiap pembiayaan bilamana rakyatnya berobat, baik sakit fisik maupun mental, sehingga kesehatan rakyatnya terjaga.
Termasuk sistem ekonominya yang mensejahterakan karena adanya pengaturan kepemilikan. Di mana harta milik umum termasuk sumber daya alam dikelola negara dan hasilnya dikembalikan untuk rakyat, juga kepemilikan negara akan benar-benar dikelola untuk membangun segala infrasruktur juga semua sarana untuk memudahkan mobilisasi masyarakat.
Di samping itu cara pandang Islam dalam kehidupan bukan dilihat dari banyaknya materi, melainkan seberapa besar keimanan dan ketakwaannya terhadap Allah Swt. Negara akan senantiasa hadir dan mensuasanakan individu rakyatnya tetap dalam keimanan yang kokoh disertai ketakwaan yang paripurna. Hingga ketika kehidupan di dunia tidak sesuai dengan keinginannya, maka ada akhirat yakni kehidupan yang sesungguhnya.
Namun semuanya hanya bisa terwujud ketika negara menerapkan Islam secara kafah dalam semua sendi kehidupan. Maka, sudah seharusnya kaum muslim semuanya mengarahkan perjuangan mereka untuk tegaknya syariat juga terwujudnya kepemimpinan Islam global.
Wallahu'alam bis shawwab
