Memuat...

Tahanan Palestina Ditembak Sembilan Kali di Sel Isolasi 'Israel'

Hanoum
Selasa, 3 November 2026 / 24 Jumadilawal 1448 06:30
Tahanan Palestina Ditembak Sembilan Kali di Sel Isolasi 'Israel'
Foto ilustrasi. [Foto: Yeni Safak]

GAZA (Arrahmah.id) -- Tunangan tahanan Palestina Hassan Salama, Ghufran al-Zamel, menyatakan pada Senin (2/11/2026) bahwa pasukan 'Israel' menembak Salama sembilan kali di sel isolasinya di Penjara Ganot pada 15 September, hari ketika Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir memasuki selnya dan merekam video. Salama, komandan Brigade al Qassam yang dipenjara hampir tiga dekade, disebut dalam kondisi sangat kritis.

Dilansir Raya (2/11), Zamel mengatakan sekitar pukul empat sore pada hari yang sama setelah video direkam, pasukan kembali menyerbu sel dan memukulnya dengan brutal sebelum menembaknya sembilan kali.

Menurut Zamel, tiga hari setelah serangan Salama dibawa untuk memotret lukanya, lalu dikembalikan ke sel tanpa pengobatan selain obat pereda nyeri. Radio Bethlehem 2000 melaporkan Zamel tidak punya informasi pasti soal jenis peluru. Ia mengatakan peluru karet biasa dipakai saat penindakan di penjara, tetapi tidak bisa memastikan.

Video Ben-Gvir menjadi bagian kasus ini. Ben-Gvir menayangkan rekaman dirinya di dalam sel Salama pada 27 September 2026, mengatakan ingin membunuh dan mengeksekusinya, dan menyatakan akan menegakkan hukuman mati bagi tahanan Palestina jika memimpin kementerian pertahanan dalam pemerintahan mendatang.

Rekaman itu memicu kecaman Palestina. Ben-Gvir sendiri menyatakan kunjungan itu berlangsung sekitar dua pekan sebelum video dipublikasikan.

Salama lahir di Gaza pada 1971. Ia dijatuhi hukuman penjara seumur hidup 48 kali dan, menurut RB2000, 'Israel' menolak membebaskannya dalam pertukaran tahanan 2011. Ia dikenal sebagai salah satu komandan militer Hamas paling senior yang dipenjara.

Kasus ini muncul di tengah laporan lain soal penembakan di penjara 'Israel'. Dua lembaga HAM 'Israel', Physicians for Human Rights Israel dan Komite Publik Menentang Penyiksaan, melaporkan 22 kesaksian penembakan dengan peluru karet atau plastik pada tahanan, 21 di antaranya warga Palestina.

Layanan Penjara 'Israel' menyebut penggunaan “sarana yang kurang mematikan” terukur dan sesuai kebutuhan operasional, tanpa menanggapi kasus Salama. (hanoum/arrahmah.id)