SANA'A (Arrahmah.id) - Kerabat dari staf asal Yaman yang bekerja untuk PBB dan organisasi internasional lainnya—yang diculik oleh kelompok Houtsi dukungan Iran—mendesak komunitas internasional untuk mengupayakan pembebasan mereka, menyusul kematian seorang pekerja PBB dalam tahanan milisi tersebut.
Komisaris Tinggi PBB untuk Hak Asasi Manusia menyatakan pada Sabtu bahwa Mohammad Al-Shami, seorang staf Kantor Hak Asasi Manusia PBB di Yaman, telah meninggal dunia saat berada dalam tahanan Houtsi. Pihaknya juga menyerukan penyelidikan segera terkait penyebab kematian tersebut.
Kelompok Houtsi menculik Al-Shami bersama puluhan pegawai asal Yaman yang bekerja untuk badan-badan PBB serta organisasi kemanusiaan internasional lainnya pada Juni 2024. Ia merupakan pekerja bantuan atau kemanusiaan keempat yang dilaporkan meninggal dunia dalam tahanan Houtsi selama dua tahun terakhir, lansir Arab News (2/11/2026).
Kematiannya telah meningkatkan kekhawatiran di kalangan kerabat para tahanan lain. Mereka mendesak PBB, berbagai organisasi kemanusiaan, dan komunitas internasional secara luas untuk meningkatkan tekanan terhadap kelompok Houtsi agar membebaskan mereka yang masih ditahan.
Khaled Al-Yemeni, yang ayahnya—Ahmed Al-Yemeni—termasuk di antara pekerja bantuan yang diculik, mengatakan kepada Arab News melalui sambungan telepon dari Paris bahwa kematian Al-Shami membuat keluarganya “sangat khawatir” akan keselamatan ayahnya.
Ahmed diculik pada hari yang sama dengan Al-Shami, namun kelompok Houtsi hanya mengizinkan pihak keluarga untuk menjenguknya satu kali. Sejak saat itu, mereka menolak untuk mengungkapkan keberadaan Ahmed ataupun memberikan informasi mengenai kondisi kesehatannya.
“Ayah saya telah ditahan selama lebih dari dua tahun. Kami hanya diizinkan menjenguknya satu kali, dan kami tidak memiliki informasi yang dapat dipercaya mengenai kondisi penahanannya ataupun keadaan kesehatannya,” ujarnya.
“Setelah mendengar kabar kematian Mohammad, kami khawatir para tahanan lain akan mengalami nasib serupa jika tidak ada tindakan mendesak untuk mengupayakan pembebasan mereka.”
Seperti banyak kerabat dari orang-orang yang diculik, Khaled menyebut kelompok Houshi dengan nama resmi mereka, Ansarallah—kemungkinan untuk menghindari konfrontasi dengan milisi tersebut.
Ia mendesak pimpinan kelompok itu untuk mengungkapkan keberadaan orang-orang yang dihilangkan secara paksa, mengizinkan mereka berkomunikasi dengan keluarga, serta melakukan penyelidikan atas kematian Al-Shami.
“Permintaan saya kepada pimpinan Ansarallah: bertindaklah sekarang sebelum ada keluarga lain yang menerima kabar tragis.”
“Ungkapkan nasib seluruh tahanan, jamin keselamatan mereka, izinkan keluarga untuk berkomunikasi dengan mereka, dan lakukan penyelidikan independen atas kematian Mohammed Al-Shami. Kami tidak ingin memakamkan orang-orang yang kami cintai; kami ingin mereka pulang ke rumah dalam keadaan hidup dan selamat,” katanya.
Safiah Mohammed, istri dari Dr. Ali Al-Mudhwahi—seorang konsultan kesehatan masyarakat UNICEF yang masih ditahan oleh kelompok Houtsi—menyampaikan belasungkawa kepada keluarga Al-Shami. Ia kembali mendesak agar suaminya dan para korban penculikan lainnya segera dibebaskan.
“Kabar kematiannya di dalam tahanan sungguh menghancurkan hati. Hal ini semakin meningkatkan kecemasan dan ketakutan kami terhadap orang-orang yang kami cintai, yang kondisi maupun keselamatannya sama sekali tidak kami ketahui,” tulisnya di Facebook.
Sejak suaminya diculik dalam rangkaian penangkapan terhadap pegawai Yaman di organisasi-organisasi internasional lebih dari dua tahun lalu, Safiah telah menggunakan media sosial untuk menyoroti penderitaan keluarganya serta kekhawatiran yang kian mendalam mengenai kesehatan dan kondisi suaminya.
Kematian Al-Shami memicu kemarahan di kalangan aktivis hak asasi manusia lokal maupun internasional, pejabat pemerintah Yaman, dan perwakilan PBB. Mereka mengecam perlakuan kelompok Houtsi terhadap para tahanan, mendesak pembebasan mereka yang masih ditahan, serta menuntut penyelidikan independen atas kematian Al-Shami.
Mohammed Al-Omada, kepala Jaringan Yaman untuk Hak dan Kebebasan (Yemeni Network for Rights and Freedoms), menyatakan bahwa fasilitas penahanan Houthi telah menjadi "pabrik teror", tempat para tahanan mengalami kekerasan fisik dan psikologis.
Ia menambahkan bahwa pihak keluarga pun turut menderita trauma psikologis karena kelompok Houtsi melarang kunjungan serta menyembunyikan informasi mengenai keberadaan dan kondisi kesehatan para tahanan.
"Hidup Al-Shami berakhir sebelum penderitaannya dalam masa penahanan usai, meninggalkan keluarganya untuk terus berjuang mencari kebenaran dan keadilan. Penundaan apa pun dalam upaya melindungi mereka yang masih diculik hanya akan memperpanjang penderitaan dan meningkatkan ancaman terhadap nyawa mereka," ujar Al-Omada kepada Arab News.
Amat Al-Salam Al-Hajj, ketua Asosiasi Ibu para Korban Penculikan (Abductees’ Mothers Association)—sebuah organisasi yang mewakili kerabat perempuan dari warga sipil yang ditahan—menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia memperingatkan bahwa jika tidak ada tindakan segera, lebih banyak lagi korban penculikan yang mungkin meninggal dalam tahanan.
"Kami memohon kepada semua pihak untuk berdiri bersama kami dan membantu mengupayakan pembebasan segera putra-putra kami yang kini ditahan, sebelum kami kehilangan mereka satu per satu. Kami mengajak semua orang untuk mendukung perjuangan kemanusiaan ini," ungkapnya kepada Arab News.
Sejak tahun 2023, kelompok Houtsi telah melancarkan penangkapan besar-besaran terhadap warga Yaman yang bekerja untuk badan-badan PBB, organisasi kemanusiaan dan hak asasi manusia internasional, mantan pegawai Kedutaan Besar AS di Sanaa, serta kalangan akademisi.
Puluhan orang telah diculik dari rumah dan tempat kerja mereka, atau saat sedang dalam perjalanan. Beberapa di antaranya mengalami penghilangan paksa, sementara yang lain diadili atas tuduhan spionase yang dikaitkan dengan Amerika Serikat dan "Israel".
Nadwa Al-Dawsari, seorang rekan peneliti di Middle East Institute, mengatakan bahwa PBB seharusnya memindahkan staf lokalnya dari wilayah yang dikuasai Houtsi ke lokasi yang lebih aman ketika pihak berwenang mulai menargetkan dan melecehkan para pekerja kemanusiaan.
“Kematiannya (Al-Shami) membuat saya sangat berduka memikirkan harga mahal yang terus dibayar oleh staf lokal Yaman; namun lebih dari itu, saya merasa sangat marah.”
“PBB menempatkan staf lokalnya dalam bahaya dengan bersikeras menyatakan bahwa wilayah yang dikuasai Houtsi aman. Ketika kelompok Houtsi menyiksa mereka hingga tewas dalam tahanan, PBB hanya memberikan pernyataan formalitas yang kosong. Harus ada pertanggungjawaban,” ujarnya kepada Arab News.
PBB telah berulang kali menepis tuduhan Houtsi bahwa para pegawainya terlibat dalam spionase, serta menegaskan bahwa keberadaan mereka di wilayah yang dikuasai Houtsi sangat penting untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan jiwa bagi jutaan rakyat Yaman. (haninmazaya/arrahmah.id)
