Memuat...

Trump Isyaratkan Serangan ke Gunung Pickaxe, Pakar Ragukan Kemampuan Bom AS

Zarah Amala
Rabu, 4 November 2026 / 25 Jumadilawal 1448 11:20
Trump Isyaratkan Serangan ke Gunung Pickaxe, Pakar Ragukan Kemampuan Bom AS
Sejumlah pejabat AS berdiri di belakang model bom nuklir gravitasi B61-13 yang dipamerkan di sebuah fasilitas militer Amerika Serikat. (Dok. Foto)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - Di tengah pembicaraan mengenai kemungkinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggunakan senjata nuklir taktis untuk menghancurkan fasilitas nuklir Iran yang tersembunyi di bawah Gunung Pickaxe, pakar militer Kolonel Nidal Abu Zaid meragukan kemampuan AS menghancurkan fasilitas tersebut. Ia justru memperingatkan dampak radiasi yang dapat menjangkau wilayah geografis yang luas jika senjata nuklir digunakan.

Sabtu (31/10/2026) lalu, Trump menyatakan bahwa pasukan AS telah menghancurkan kemampuan nuklir Iran. Namun, ia mengatakan masih ada satu atau dua lokasi yang perlu ditangani, bahkan bisa dihancurkan dalam waktu 10 menit. Salah satunya adalah fasilitas di Gunung Pickaxe, Provinsi Isfahan, yang berada tidak jauh dari kompleks nuklir Natanz.

Dalam analisisnya di Al Jazeera, Abu Zaid menjelaskan bahwa fasilitas tersebut berada di kawasan pegunungan berbentuk segitiga dan dilindungi lapisan granit yang kompleks. Kondisi itu membuatnya sulit dihancurkan, bahkan dengan bom penghancur bunker GBU-57 milik AS.

Menurut Abu Zaid, GBU-57 hanya mampu menembus hingga kedalaman sekitar 60 meter. Sementara itu, sejumlah situs militer khusus memperkirakan fasilitas nuklir Iran tersebut berada pada kedalaman 80 hingga 100 meter di bawah permukaan tanah.

Lokasinya yang berada di tengah kawasan pegunungan, dengan setiap sisi segitiganya berdekatan dengan fasilitas nuklir, serta tidak jauh dari Kota Kashan, yang dikenal sebagai salah satu pusat pengembangan rudal Iran, dinilai semakin memperkuat perlindungan fasilitas tersebut.

Abu Zaid menilai AS kini berada di tahap akhir sebelum melancarkan operasi militer baru terhadap Iran. Menurutnya, Trump ingin mencapai sasaran yang memiliki nilai militer tinggi agar dapat mengklaim telah menghancurkan kemampuan nuklir Teheran. Dalam konteks itu, Gunung Pickaxe disebut bisa menjadi sasaran yang diincar Washington.

Ia juga mengatakan bahwa AS dan Iran sama-sama tengah bertarung membentuk persepsi publik melalui pernyataan dan propaganda. Keduanya berkepentingan menentukan bagaimana babak akhir perang akan dipandang.

Menurut Abu Zaid, perubahan narasi AS, dari pembicaraan mengenai bom penghancur bunker hingga isu penggunaan senjata nuklir taktis, bertujuan menimbulkan ketakutan di Teheran sekaligus membangun citra kemenangan bagi Washington.

Abu Zaid menyebut AS memiliki tiga varian bom nuklir B61, yakni B61-11, B61-12, dan B61-13. Ia memperkirakan varian B61-13 mungkin menjadi salah satu senjata yang dipertimbangkan. Namun, menurutnya, senjata tersebut belum tentu mampu menembus hingga kedalaman fasilitas yang diperkirakan berada di bawah Gunung Pickaxe. Penggunaannya, kata dia, lebih mungkin dimaksudkan untuk menciptakan efek kejut dan teror terhadap Iran menjelang kemungkinan operasi militer.

Abu Zaid memperingatkan bahwa ancaman utama penggunaan senjata nuklir bukan hanya daya hancurnya, melainkan juga dampak radiasi yang dapat menyebar jauh melampaui wilayah sasaran. Karena itu, dampaknya berpotensi tidak hanya dirasakan Iran, tetapi juga kawasan yang lebih luas. (zarahamala/arrahmah.id)