IDLIB (Arrahmah.id) -- Kelompok pejuang asing Firqat al Ghuraba yang dipimpin warga Prancis-Senegal Oumar Diaby alias Omar Omsen merilis pernyataan berjudul “A Call for Solidarity and Mutual Aid” pada Senin (2/11/2026). Pernyataan itu terbit lewat Telegram, hanya sepekan setelah salah satu anggotanya tewas dalam baku tembak dengan pasukan keamanan Suriah di Idlib, barat laut Suriah.
Dilansir Jihadology (3/11), pernyataan itu dirilis dalam enam bahasa: Arab, Prancis, Inggris, Uzbek, Rusia, dan Turki yang secara garis besar meminta dukungan dan bantuan dari umat Islam terkait kondisi mereka yang saat ini ditekan Suriah.
Sebelumnya, aparat keamanan Idlib menyatakan satu anggota kelompok bersenjata tewas dan seorang warga sipil terluka setelah patroli menembaki orang-orang yang keluar dari kamp Prancis dengan membawa senjata, yang melanggar kesepakatan.
Pihak Firqat al-Ghuraba membantah versi itu. Saluran Telegram yang berafiliasi dengan kelompok tersebut menyatakan pasukan keamanan menembak saat “saudara-saudara kami” membeli makanan di kota, dan korban disebut bernama Abu Ayman al-Faransi, yang telah 13 tahun tinggal di Suriah. Kelompok itu juga bersumpah tidak akan meninggalkan tanah tersebut sebelum membalas dendam.
Insiden itu menambah panjang ketegangan antara Damaskus dan para pejuang asing. Pada Oktober 2025, pasukan pemerintah bentrok dengan kelompok ini sebelum kedua pihak menyepakati gencatan senjata yang mencakup penarikan senjata berat dari kamp Harem di Provinsi Idlib.
Menurut laporan Foundation for Defense of Democracies (FDD) tertanggal 22/10/2025, operasi saat itu menyasar kamp yang dipimpin Omsen, yang oleh Amerika Serikat ditetapkan sebagai teroris global khusus pada 2016.
Media Arab Enab Baladi (12/5/2025) melaporkan kelompok ini memiliki sekitar 70 pejuang Prancis dan hubungan yang tidak harmonis dengan Hai'ah Tahrir Sham, yang pernah menahan Omsen selama 17 bulan.
Kelompok ini diperkirakan beranggotakan puluhan hingga sekitar seratus pejuang, disertai perempuan dan anak-anak. Diaby juga dicari otoritas Prancis lewat surat perintah penangkapan.
Pemerintah Suriah di bawah Presiden Ahmad Asy Syaraa dinilai berada dalam posisi sulit. Menurut The New Arab, ia harus menyeimbangkan citra moderat di mata dunia dengan upaya tidak memusuhi para pejuang asing yang masih berada di negaranya. (hanoum/arrahmah.id)
