WASHINGTON (Arrahmah.id) - Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa operasi militer Amerika Serikat di Iran, yang dikenal dengan nama Operation Epic Fury, telah mencapai tujuan utamanya. Trump menegaskan bahwa ancaman nuklir Teheran telah berhasil dilumpuhkan dan pasukan AS akan mulai meninggalkan wilayah tersebut dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan.
Dalam pernyataan di Oval Office, Trump menyatakan bahwa AS tidak perlu lagi menetap di Iran karena infrastruktur strategis yang menjadi target utama telah hancur total. Trump mengklaim bahwa tujuan tunggal serangan ini adalah memastikan Iran tidak memiliki senjata nuklir. "Tujuan itu telah tercapai. Mereka tidak memiliki senjata nuklir sekarang," tegasnya.
Trump menyebut bahwa serangan yang menargetkan tokoh-tokoh kunci (termasuk kabar mengenai suksesi kepemimpinan di Teheran) telah memaksa munculnya kelompok pejabat yang disebutnya lebih rasional untuk diajak bernegosiasi.
Meskipun Iran dikabarkan sedang berusaha menjajaki kesepakatan baru, Trump menekankan bahwa AS bisa saja pergi tanpa harus menandatangani perjanjian formal. "Iran tidak harus membuat kesepakatan dengan saya agar kami pergi," ujarnya.
Trump memperkirakan Iran akan membutuhkan waktu 15 hingga 20 tahun untuk memulihkan kapasitas militer dan ekonomi yang hancur selama beberapa minggu terakhir. Ia menambahkan bahwa saat ini Iran berada dalam posisi yang sangat lemah.
Pernyataan Trump ini langsung direspons positif oleh pasar keuangan dunia. Harga minyak mentah Brent turun sekitar 3,2% ke level $103,97 per barel karena harapan meredanya gangguan di Selat Hormuz. Indeks saham di AS, Jepang (Nikkei), dan Korea Selatan melonjak signifikan menanggapi prospek perdamaian di Timur Tengah. (zarahamala/arrahmah.id)
