MICHIGAN (Arrahmah.id) — Kandidat Partai Demokrat, Abdul El-Sayed, mengumumkan kemenangan dalam pemilihan anggota Senat Amerika Serikat (AS) dari negara bagian Michigan. Ia mengalahkan pesaingnya dari Partai Republik, Mike Rogers, dalam persaingan ketat yang diwarnai kampanye hitam, serangan bernuansa agama, serta pengeluaran dana politik dalam jumlah besar untuk menggagalkan pencalonannya.
Kemenangan tersebut menjadikan Abdul El-Sayed sebagai Muslim pertama yang terpilih menjadi anggota Senat AS. Ia berhasil mempertahankan keunggulan di tengah berbagai upaya untuk mendiskreditkan dirinya, termasuk serangan dari sejumlah tokoh Partai Republik dan pembelotan mendadak dari mantan pesaingnya dalam pemilihan pendahuluan Partai Demokrat.
Dikutip dari Al Jazeera, Rabu (4/11/2026), El-Sayed mengungkapkan bahwa Komite Urusan Publik Amerika-Israel (AIPAC) menghabiskan 42 juta dolar AS untuk melawan kampanyenya.
"Namun, kami berhasil mengalahkannya," kata El-Sayed.
Ia menegaskan bahwa rakyat Amerika tidak menginginkan uang pajak mereka digunakan untuk mendanai apartheid, genosida, maupun peperangan.

Serangan Politik dan Isu Agama
Sepanjang kampanye, El-Sayed menjadi sasaran serangan berulang kali dari para pemimpin dan kandidat Partai Republik. Serangan tersebut menyasar identitas agamanya, pandangan politik, hingga kesetiaannya kepada Amerika Serikat.
Pada 8 Oktober, Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social secara terbuka mengajak para pemilih untuk mendukung Mike Rogers. Dalam unggahannya, Trump bahkan menyebut El-Sayed dengan nama "Muhammad", bukan Abdul, serta melabelinya sebagai "ekstremis radikal dan simpatisan terorisme".
Trump juga menuding El-Sayed akan membawa Amerika kembali ke "masa-masa jihad" dan menyatakan bahwa kandidat tersebut tidak mewakili nilai-nilai Michigan maupun Amerika Serikat.
Dalam sebuah kampanye di Port Huron pada 25 Oktober, Trump kembali menyerang El-Sayed. Ia menyebutnya sebagai "anggota jihad dari Ikhwanul Muslimin" yang berupaya masuk ke Senat AS.
Trump bahkan mengatakan bahwa El-Sayed akan menjadi satu-satunya senator yang harus menjalani pemeriksaan menggunakan detektor logam sebelum memasuki Gedung Capitol. Ia juga menuduh sebuah organisasi yang terkait dengan El-Sayed memberikan dana kepada jaringan Al-Qaeda.
Wakil Presiden AS JD Vance turut menyerukan penolakan terhadap El-Sayed dalam sebuah kampanye di Sterling Heights pada 31 Agustus. Vance menyebutnya sebagai sosok yang sangat jahat dan menuduhnya bersimpati kepada pihak-pihak yang disebutnya sebagai pembunuh dan orang-orang jahat. Ia juga menuding El-Sayed berusaha memecah belah masyarakat Amerika berdasarkan ras dan agama.
Sementara itu, Mike Rogers juga melontarkan tuduhan serupa setelah El-Sayed memenangkan pencalonan Partai Demokrat pada Agustus lalu.
"Saya menghabiskan bertahun-tahun memburu teroris dan membawa Osama bin Laden ke pengadilan. Saya tidak pernah membayangkan akan mencalonkan diri melawan seseorang yang menganggap Amerika pantas menerima serangan 11 September," ujar Rogers.

Pembelotan di Menit-Menit Terakhir
Beberapa hari menjelang pemungutan suara, anggota DPR AS dari Partai Demokrat, Haley Stevens, yang sebelumnya menjadi pesaing El-Sayed dalam pemilihan pendahuluan, secara mengejutkan mengumumkan dukungannya kepada Mike Rogers.
Langkah tersebut mengejutkan para petinggi Partai Demokrat dan diharapkan oleh sejumlah pihak dapat menggagalkan kemenangan El-Sayed.
Namun, dukungan Stevens kepada Rogers tidak cukup untuk menghentikan langkah El-Sayed menuju Senat AS.
Berdasarkan data Komisi Pemilihan Federal (FEC) hingga 31 Oktober, total pengeluaran independen yang dilaporkan untuk menyerang El-Sayed dalam pemilihan umum mencapai sekitar 133,7 juta dolar AS. Angka tersebut jauh lebih besar dibandingkan dana sekitar 54,4 juta dolar AS yang digunakan untuk menyerang Rogers.
Sejumlah organisasi turut terlibat dalam upaya tersebut, termasuk Dana Kepemimpinan Senat Partai Republik dan berbagai kelompok konservatif lainnya.
Selain itu, RJC Victory Fund, yang berafiliasi dengan Koalisi Yahudi Partai Republik, tercatat mengeluarkan sekitar 1,4 juta dolar AS untuk menyerang El-Sayed.
Demokrat Kuasai Kongres AS
Dalam pemilihan paruh waktu tersebut, Partai Demokrat juga berhasil mengambil alih kendali Kongres AS, baik di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun Senat.
Demokrat meraih 220 kursi di DPR dengan proses penghitungan suara yang masih berlangsung. Sementara di Senat, mereka memperoleh mayoritas dengan 54 dari total 100 kursi.
Kemenangan Demokrat di sejumlah negara bagian, termasuk Iowa, North Carolina, South Carolina, Ohio, Texas, dan Michigan, turut menentukan perubahan peta kekuatan politik di Kongres.
Peralihan kendali tersebut memberikan Partai Demokrat peluang lebih besar untuk mengawasi pemerintahan Presiden Donald Trump dari Partai Republik sekaligus memengaruhi agenda legislasi selama dua tahun tersisa masa jabatannya.
Kemenangan Abdul El-Sayed di Michigan menjadi salah satu hasil penting dalam pemilu tersebut, sekaligus mencatat sejarah baru bagi keterwakilan Muslim dalam lembaga legislatif tertinggi Amerika Serikat.
(Samirmusa/arrahmah.id)
