Memuat...

'Israel' Klaim Iran Siapkan Senjata Kimia, Sejumlah Pejabat AS Ragukan Informasinya

Zarah Amala
Rabu, 4 November 2026 / 25 Jumadilawal 1448 11:40
'Israel' Klaim Iran Siapkan Senjata Kimia, Sejumlah Pejabat AS Ragukan Informasinya
The New York Times menyebut pemasangan hulu ledak kimia pada rudal balistik Iran bukan hal yang sulit. Namun, memastikan bahan kimia tersebar secara efektif saat senjata meledak menjadi tantangan teknis. (Anadolu Agency)

WASHINGTON (Arrahmah.id) - 'Israel' membagikan informasi intelijen kepada Amerika Serikat yang mengklaim bahwa Iran tengah mempertimbangkan penggunaan senjata kimia terhadap musuh-musuhnya. Informasi tersebut memicu kekhawatiran sebagian pejabat AS, tetapi juga disambut dengan keraguan mendalam oleh pejabat lainnya.

Laporan The New York Times pada Selasa (4/11/2026) menyebutkan bahwa intelijen 'Israel' memberi tahu mitranya di AS bahwa Iran diduga bergerak cepat untuk melengkapi rudal-rudalnya dengan hulu ledak kimia. Teheran juga dituding berupaya menyelundupkan senjata kimia ke 'Israel' atau negara lain untuk digunakan dalam serangan.

'Israel' bahkan menilai ancaman senjata kimia Iran lebih mendesak dibandingkan ambisi negara itu mengembangkan senjata nuklir. Penilaian tersebut disampaikan dalam sejumlah pembicaraan antara badan intelijen dan pejabat AS selama dua pekan terakhir, menurut laporan surat kabar tersebut.

'Israel' juga menyampaikan informasi serupa kepada sejumlah negara Teluk. Dalam laporan itu, 'Israel' mengklaim Iran sedang berupaya membuat senjata kimianya siap digunakan secara operasional. Namun, informasi tersebut tidak disertai bukti.

Negara-negara Teluk dilaporkan tidak menganggap serius klaim tersebut. Sejumlah pejabat di kawasan itu menilai informasi 'Israel' sebagai upaya untuk mendorong AS dan sekutunya kembali melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran.

Informasi intelijen tersebut membuat sebagian pejabat AS khawatir. Mereka menilai ancaman Iran perlu diperhatikan, terutama di tengah peringatan terbaru mengenai kemungkinan Teheran menyerang kepentingan Amerika.

Namun, pejabat lainnya meragukan informasi itu. Mereka menduga klaim tersebut merupakan bagian dari kampanye tekanan pemerintah Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu untuk membujuk pemerintahan Presiden Donald Trump kembali melancarkan serangan besar-besaran terhadap Iran.

Menurut para pejabat AS, pemerintahan Trump tidak memiliki rencana menggunakan senjata nuklir. Meski demikian, para pejabat Iran disebut tidak sepenuhnya percaya pada pernyataan tersebut, sebagaimana dilaporkan The New York Times.

Laporan itu menyebutkan bahwa penilaian para pejabat yang mengetahui informasi intelijen tersebut berbeda-beda, terutama mengenai seberapa cepat Iran dapat menggunakan senjata kimia dan seberapa efektif senjata itu jika digunakan.

Sebagian pihak menilai memasang hulu ledak kimia pada rudal balistik bukanlah pekerjaan yang sulit. Namun, memastikan bahan kimia tersebar secara efektif saat senjata meledak merupakan tantangan teknis tersendiri.

Upaya menyelundupkan bom kimia melintasi perbatasan juga dinilai menghadapi kendala logistik dan keamanan.

Sejumlah pejabat AS menilai perdebatan mengenai informasi intelijen terbaru itu mencerminkan tingginya ketegangan dan risiko terjadinya salah perhitungan yang dapat berujung pada konsekuensi serius.

Mereka bahkan membandingkan klaim 'Israel' mengenai senjata kimia Iran dengan informasi menyesatkan yang pernah digunakan terkait dugaan kepemilikan senjata pemusnah massal Irak pada 2002.

Di tengah perkembangan tersebut, tanda-tanda kemungkinan berlanjutnya konfrontasi militer AS-Iran semakin terlihat. Trump dan Netanyahu dilaporkan terus berkomunikasi, sementara 'Israel' meningkatkan persiapan militernya untuk menghadapi kemungkinan operasi baru. Di sisi lain, Iran memperingatkan bahwa perang berikutnya bisa berlangsung lebih lama dibandingkan konflik sebelumnya.

Koresponden politik 'Israel' Barak Ravid, melalui Channel 12 pada 1 November, melaporkan bahwa Trump dan Netanyahu telah melakukan percakapan telepon yang berlangsung terbuka dan tajam mengenai negosiasi dengan Iran. Ravid mengutip dua sumber yang mengetahui pembicaraan tersebut, masing-masing dari 'Israel' dan AS.

Menurut laporan itu, Netanyahu mendesak agar perang dilanjutkan segera setelah pemilu paruh waktu AS selesai. Sebaliknya, Trump ingin memberikan kesempatan tambahan bagi jalur perundingan dan menyatakan keberatan terhadap langkah 'Israel' yang berpotensi menghambat upaya mediasi. (zarahamala/arrahmah.id)