Memuat...

Kandidat Muslim di Michigan Diserang dengan Iklan Anti-Islam Jelang Pemilu AS

Zarah Amala
Rabu, 4 November 2026 / 25 Jumadilawal 1448 12:37
Kandidat Muslim di Michigan Diserang dengan Iklan Anti-Islam Jelang Pemilu AS
Iklan kampanye yang menyerang Abdul El-Sayed berusaha menggambarkan dirinya dan kelompok yang diwakilinya sebagai pihak yang tidak patriotik. (Brooke Anderson/The New Arab)

MICHIGAN (Arrahmah.id) - Seorang jihadis, ancaman keamanan nasional, penyandang dana Hamas, simpatisan teroris, hingga sosok sosialis yang akan menghancurkan sektor swasta.

Itulah sejumlah tuduhan yang dilontarkan melalui iklan serangan politik terhadap Abdul El-Sayed, kandidat Partai Demokrat di Michigan, oleh lawannya dari Partai Republik, Mike Rogers, beberapa hari menjelang pemilihan paruh waktu Amerika Serikat pada 3 November.

Meski tidak ada bukti bahwa kandidat Demokrat tersebut menganut pandangan atau terlibat dalam hal-hal yang dituduhkan, berbagai tudingan itu tetap berpotensi memicu ketakutan dan memperkuat permusuhan terhadap komunitas Muslim. Padahal, kelompok ini baru dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan partisipasi dalam kehidupan politik dan kewargaan.

"Saya belum pernah melihat serangan seperti ini terhadap kandidat lain sebagaimana yang dialami Abdul El-Sayed. Sudah pasti ini terjadi karena latar belakangnya, karena dia orang Arab dan Muslim," kata Mohammed Mawla, anggota Dewan Sekolah Dearborn Heights, kepada The New Arab.

Mawla sendiri pernah menerima ancaman pembunuhan yang berkaitan dengan latar belakangnya. Ia pun mengkhawatirkan keselamatan masyarakat biasa.

"Jika dia menang, itu berarti akan ada lebih banyak kandidat seperti dirinya," ujarnya.

Di Dearborn, wilayah di tenggara Michigan yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Arab atau Muslim, El-Sayed unggul cukup jauh atas Rogers. Namun, iklan-iklan bernada anti-Muslim terus bergema di kawasan tersebut. Iklan itu ditayangkan melalui televisi layar besar di tempat-tempat warga menyaksikan berita lokal dan pertandingan olahraga.

Meski warga setempat belum tentu menjadi sasaran utama iklan tersebut, mereka justru menjadi pihak yang dijadikan kambing hitam.

"Iklan-iklan itu menyulut kemarahan orang-orang yang sejak awal sudah memiliki prasangka atau mendapat informasi keliru bahwa Muslim adalah kelompok berbahaya," kata Wa'el Alzayat, penasihat utama Emgage, organisasi yang menggalang partisipasi pemilih Muslim, kepada The New Arab.

"Tiba-tiba mereka menyebut orang-orang ini teroris dan menempatkan seluruh komunitas dalam bahaya," ujarnya.

Iklan semacam ini memang bukan hal baru dalam lanskap politik Amerika. Namun, kemunculannya kali ini berlangsung di tengah meningkatnya kejahatan kebencian terhadap Muslim, termasuk yang menyasar para politikus Muslim, serta retorika anti-Islam yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Serangan tersebut juga terus berlanjut hingga hari-hari terakhir kampanye pemilu paruh waktu yang berlangsung sengit. Salah satu perkembangan yang mengejutkan adalah perubahan dukungan dari mantan pesaing El-Sayed, Haley Stevens, yang kini beralih mendukung Rogers.

Dalam pernyataan dukungan yang mengejutkan pada menit-menit terakhir itu, Stevens kembali menggunakan strategi yang pernah diterapkannya saat pemilihan pendahuluan. Ia menyatakan bahwa dirinya tidak lagi diterima dalam kampanye El-Sayed dan menyinggung hubungan kandidat tersebut dengan Hasan Piker, streamer yang dikenal mendukung Palestina.

Debbie Dingell, anggota terkemuka Dewan Perwakilan Rakyat AS dari wilayah tenggara Michigan, mengatakan persaingan politik tersebut telah "menyiramkan bensin ke atas perpecahan". Ia menyebut warga Arab dan kulit hitam merasa khawatir terhadap kemungkinan yang terjadi jika El-Sayed menang.

Selain melalui iklan, bahasa yang memecah belah juga tersebar luas dalam kampanye, unggahan media sosial, hingga pemberitaan televisi pada malam hari.

Dalam pidato penutupnya pada malam menjelang pemilu paruh waktu, Presiden AS Donald Trump menggunakan istilah yang identik dengan budaya Amerika untuk memuji Rogers.

"Mike Rogers itu seperti pai apel. Dan tahu apa yang dibutuhkan negara ini? Sedikit pai apel. Kita tidak membutuhkan komunis, jihadis, atau Ikhwanul Muslimin. Kita membutuhkan pai apel. Dia adalah pai apel," kata Trump.

Di antara para hadirin, seorang pria yang berdiri di belakang podium presiden mengenakan kaus bertuliskan, "I ICE raids" atau "Saya cinta penggerebekan ICE".

Di tengah sorotan besar terhadap retorika kebencian tersebut, perkembangan penting lainnya berisiko terabaikan: semakin banyak Muslim yang maju sebagai kandidat dalam pemilu dan semakin terbukanya penerimaan pemilih terhadap pencalonan mereka.

Dalam kampanye El-Sayed, nama depannya, Abdul, berulang kali diteriakkan oleh para pendukung. Hal itu menunjukkan bahwa ia bukan hanya diterima, tetapi juga mendapat sambutan hangat dari masyarakat.

"Ketika melihat iklan-iklan serangan seperti ini, kami justru akan semakin termotivasi untuk memberikan suara," kata Mawla. (zarahamala/arrahmah.id)