ISTANBUL (Arrahmah.id) -- Seorang aktivis Gaza flotilla bernama Mousa Taher mengungkap dugaan penyiksaan dan penghinaan yang dialami para aktivis pro-Palestina selama ditahan aparat 'Israel' setelah kapal bantuan kemanusiaan mereka dicegat di Laut Mediterania. Taher mengatakan para tahanan dipukul, dipermalukan, hingga dipaksa merangkak di tanah oleh petugas 'Israel'.
Insiden itu terjadi setelah pasukan 'Israel' mencegat kapal-kapal Global Sumud Flotilla yang berusaha menembus blokade Gaza pada Selasa (19/5/2026) lalu. Flotilla tersebut membawa ratusan aktivis internasional dan bantuan kemanusiaan untuk warga Gaza yang masih menghadapi krisis akibat perang berkepanjangan.
Dalam wawancara dengan Anadolu Agency (20/5), Mousa Taher mengatakan para aktivis mengalami perlakuan kasar sejak ditahan. Mousa Taher berkata, “Mereka membuat kami merangkak di tanah.” Ia juga mengaku sejumlah tahanan dipukul dan dihina selama berada dalam tahanan 'Israel'.
Menurut Taher, para aktivis dipaksa berlutut dengan tangan terikat dan menerima perlakuan intimidatif dari aparat keamanan 'Israel'. Kesaksian serupa juga muncul dari aktivis lain yang mengaku mengalami pelecehan verbal, ancaman, hingga kekerasan fisik selama proses penahanan.
Kontroversi semakin membesar setelah Menteri Keamanan Nasional 'Israel' Itamar Ben-Gvir membagikan video para aktivis yang ditahan dalam posisi berlutut dan tangan terikat. Video tersebut memicu kecaman internasional dan dianggap mempermalukan tahanan sipil.
Reuters melaporkan sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Italia, dan Polandia, memanggil diplomat Israel untuk meminta penjelasan atas perlakuan terhadap para aktivis Flotilla. Komisi Uni Eropa juga menyebut perlakuan terhadap para tahanan sebagai tindakan yang “sepenuhnya tidak dapat diterima”.
Organisasi bantuan hukum Adalah yang mendampingi para aktivis mengatakan beberapa tahanan mengalami kekerasan fisik dan psikologis. Dalam pernyataan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, Adalah menyebut para aktivis “dipaksa berlutut selama berjam-jam dengan tangan terikat.”
Pemerintah 'Israel' membela operasi pencegatan tersebut dengan alasan keamanan dan penegakan blokade laut Gaza. Namun otoritas penjara Israel membantah tuduhan penyiksaan dan menyebut klaim para aktivis sebagai “tidak berdasar”.
Flotilla Global Sumud sendiri merupakan bagian dari gerakan internasional yang berupaya menembus blokade Gaza dan mengirim bantuan kemanusiaan langsung ke wilayah Palestina. Upaya serupa pernah memicu krisis internasional pada 2010 ketika pasukan Israel menyerbu kapal Mavi Marmara dan menewaskan sejumlah aktivis Turki. (hanoum/arrahmah.id)
