Memuat...

Warga Mali Ungkap Dugaan Penyiksaan dan Pembunuhan oleh Tentara serta Pasukan Rusia

Hanoum
Jumat, 22 Mei 2026 / 6 Zulhijah 1447 08:17
Warga Mali Ungkap Dugaan Penyiksaan dan Pembunuhan oleh Tentara serta Pasukan Rusia
Warga sipil telah melarikan diri dari kekerasan yang dilakukan oleh tentara Mali dan paramiliter Rusia ke kamp-kamp pengungsi di negara tetangga Mauritania. [Foto: PATRICK MEINHARDT/AFP]

BAMAKO (Arrahmah.id) -- Sejumlah warga Mali mengaku mengalami penyiksaan, pembunuhan, dan kekerasan brutal yang diduga dilakukan tentara Mali bersama pejuang Rusia di tengah konflik berkepanjangan di negara Afrika Barat tersebut. Kesaksian para korban dan saksi mata itu memunculkan kembali sorotan internasional terhadap operasi militer junta Mali dan kelompok tentara bayaran Rusia yang kini aktif di wilayah konflik.

Laporan Radio France Internationale (RFI) (21/5/2026) menyebut banyak warga sipil melarikan diri ke perbatasan Mauritania setelah operasi militer besar-besaran dilakukan di wilayah utara dan tengah Mali. Para pengungsi mengaku menyaksikan penangkapan, penyiksaan, hingga pembunuhan terhadap warga yang dituduh bekerja sama dengan kelompok pemberontak atau jihadis.

Salah satu saksi bernama Cherifa mengatakan putranya dipenggal setelah ditangkap pasukan bersenjata. “Mereka membunuh anak saya di depan orang-orang.”

Kesaksian itu disampaikan di kamp pengungsian dekat perbatasan Mauritania tempat ratusan warga Mali mencari perlindungan.

Menurut laporan RFI, sejumlah korban menyebut pelaku kekerasan terdiri dari tentara Mali dan pria-pria kulit putih bersenjata yang diyakini berasal dari kelompok tentara Rusia. Banyak warga lokal menyebut mereka sebagai “orang-orang Rusia” atau “pasukan Wagner”, meski Rusia kini secara resmi menggunakan nama Africa Corps untuk operasi militernya di Afrika.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah junta Mali memang mempererat kerja sama militer dengan Rusia setelah hubungan dengan Prancis memburuk. Pasukan Rusia dikerahkan untuk membantu operasi anti-jihadis setelah Mali memutus kerja sama militer dengan negara-negara Barat.

Namun berbagai organisasi HAM menuduh operasi gabungan Mali-Rusia justru diwarnai pelanggaran hak asasi manusia. Human Rights Watch dan PBB sebelumnya melaporkan adanya eksekusi di luar hukum, penyiksaan, dan penghilangan paksa dalam sejumlah operasi militer di Mali utara.

Seorang pengungsi lain yang diwawancarai RFI mengatakan warga desa hidup dalam ketakutan setelah operasi militer meningkat sejak pecahnya pemberontakan baru di Mali awal 2026. Dalam kutipan yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia, ia mengatakan, “Siapa pun bisa ditangkap dan tidak pernah kembali.”

Konflik Mali sendiri semakin memburuk setelah kelompok separatis Tuareg dan kelompok jihad yang terkait Al-Qaeda melancarkan serangan besar terhadap junta militer di berbagai wilayah utara. Pemerintah Mali merespons dengan operasi udara dan darat yang didukung pejuang Rusia.

Hingga kini pemerintah Mali maupun pihak Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas tuduhan penyiksaan dan pembunuhan tersebut. Namun Kremlin sebelumnya berulang kali membantah keterlibatan tentara bayaran Wagner dalam pelanggaran HAM di Afrika. (hanoum/arrahmah.id)