Memuat...

Bela Pembatasan Hijab, Anggota Parlemen Azerbaijan: Judoka Tak Bisa Pakai Kimono di Kolam

Hanoum
Rabu, 14 Oktober 2026 / 4 Jumadilawal 1448 06:11
Bela Pembatasan Hijab, Anggota Parlemen Azerbaijan: Judoka Tak Bisa Pakai Kimono di Kolam
Tangkapan layar. [Foto: TRT World]

BAKU (Arrahmah.id) -- Anggota parlemen Azerbaijan, Adil Aliyev, membela pembatasan pemakaian hijab di sekolah dengan membandingkannya dengan aturan pakaian olahraga.

“Sama seperti seorang judoka tidak bisa berenang di kolam renang sambil mengenakan kimono, dia juga tidak bisa berlatih sambil mengenakan jilbab,” demikian pernyataan Aliyev dalam video yang beredar di media sosial, dikutip dari TRT world (13/10/2026).

Dalam video yang dibagikan melalui Facebook, Instagram, dan X, Aliyev menggunakan analogi olahraga untuk menjelaskan pandangannya bahwa setiap lingkungan memiliki aturan berpakaian tersendiri.

Ia membandingkan kewajiban mengenakan pakaian yang sesuai dengan kegiatan olahraga dengan ketentuan seragam di sekolah.

Pernyataan Aliyev muncul setelah pemerintah Azerbaijan menyetujui perubahan aturan seragam sekolah pada 21 September 2026. Ketentuan baru itu melarang pakaian yang dinilai tidak sesuai dengan prinsip sekularisme dan keseragaman seragam, meskipun teks aturan tersebut tidak secara eksplisit menyebut kata “hijab”.

Dalam penerapannya, sejumlah sekolah dilaporkan melarang siswi mengenakan penutup kepala dan menolak kehadiran mereka di ruang kelas.

Al Jazeera melaporkan pada 12 Oktober bahwa kebijakan tersebut memicu protes siswa dan guru di sejumlah wilayah Azerbaijan. Rekaman yang beredar memperlihatkan pelajar berunjuk rasa di luar sekolah dan memboikot kegiatan belajar.

Sejumlah guru perempuan juga mengaku diminta melepas hijab agar dapat tetap mengajar. Para pengkritik menilai kebijakan tersebut berpotensi membatasi kebebasan beragama dan hak memperoleh pendidikan.

Pemerintah Azerbaijan, sebaliknya, menyatakan aturan seragam bertujuan menjaga karakter sekuler sistem pendidikan dan menciptakan lingkungan belajar yang setara.

Kantor berita resmi Azerbaijan, APA, menjelaskan bahwa ketentuan itu dimaksudkan untuk memastikan keseragaman pakaian siswa. Otoritas setempat juga menegaskan bahwa aturan tersebut berkaitan dengan seragam sekolah, bukan larangan terhadap keyakinan agama secara umum.

Perdebatan tersebut menjadi sorotan karena Azerbaijan merupakan negara sekuler dengan penduduk yang mayoritas beragama Islam. Menurut Al Jazeera, sekitar 96 persen penduduknya mengidentifikasi diri sebagai Muslim. Konstitusi negara itu memisahkan agama dari negara sekaligus menjamin kebebasan beragama, sehingga penerapan aturan seragam memunculkan pertanyaan tentang batas antara prinsip sekularisme dan hak warga menjalankan keyakinan. (hanoum/arrahmah.id)